Tampilkan postingan dengan label PERSONAL BRANDING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERSONAL BRANDING. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Desember 2016

Ridwan Kamil dan Hijab of The Day

Unknown
Aksi Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memang selalu mengundang perhatian publik. Mungkin karena sarat dengan humanisme sehingga masyarakat menyukai. Beberapa waktu lalu, aksi Ridwan Kamil mensetop pengendara motor yang melanggar rambu-rambu lalu lintas dan menyuruhnya push up. Dan kali ini ia mendatangi warga (perempuan) yang sedang bertengkar.

Arsitektur alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mendamaikan keduanya. Namun bukan itu yang membuat twits Ridwan Kamil mendapatkan likes dari penggemarnya, tetapi kalimat Hijab of The Day. Memang dalam gambar yang ia upload terdapat seorang wanita menggunakan hijab handuk yang kemudian diistilahkan oleh Ridwan Hijab of The Day. Ha ha ha ha.

Sejumlah netizen pun berkelakar dengan humanis juga. "Model Hijab 2017 nih," kata salah seorang netizen. Dan luar biasanya, status Ridwan Kamil dishare hingga 1.535 kali (catatan Senin,5/12/2016) sekira pukul 17.00 WIB. Sementara yang berkomentar ada 38 ribu orang, luar biasa!. Kini Hijab ot The Day menjadi pembicaraan netizen, khususnya para muslimah.

Selain istilah baru itu, aksi selfie dengan warga juga menjadi perhatian netizen. Apalagi yang selfie adalah wanita yang sebelumnya sempat bersitegang dengan wanita lainnya. Lagi blusukan mengecek distribusi gas 3 kg sambil menengahi emak-emak yang berantem, tiba-tiba ada seorang ibu berlari ke luar dari rumah dengan gaya 'Hijab of the Day' nya. Dan konsentrasi pun langsung buyar. Perseteruan saya selesaikan dengan selfie bersama. Damai lah dunia. Itulah status Ridwan Kamil yang disertai foto-fotonya.

Minggu, 30 Oktober 2016

Adu Branding Andika VS Embay

Unknown
Untuk posisi Calon Wakil Gubernur Banten pada Pilkada 2017 terlihat lebih jelas daripada personal branding Wahidin dan Rano. Personal Branding Andika terlihat dari aktivity brand yang dilakukan selama ini. Andika dibranding sosok anak muda yang low profile,anak muda ganteng yang bisa diajak untuk melakukan pembenahan, kendati dia dikait-kaitkan dengan kasus Ibunya, Ratu Atut Chosiyah. Namun dengan masuk ke area kaum urban, kelas menengah stylish stigma buruk itu tidak memiliki pengaruh yang kuat. Meski masih ada riak-riak yang muncul ke permukaan.

Disinilah peran strategis tim Andika untuk mengcreate agar Andika bisa menjadi diri sendiri. Bayang-bayang pasti ada, ini wajar mengingat ia berasal dari keluarga yang menjadi sorotan publik. Namun upaya ini harus tetap dilakukan, karena Andika mau tidak mau, suka atau tidak suka pasti akan "diserang" dari sisi history keluarganya, Namun, isu ini pasti sudah ada penangkalnya, mengingat keluarga Andika sudah beberapa kali Pilkada dan terbukti sukses mengantisipasi serangan ini.

Sejauh ini penulis melihat aktivity branding Andika cukup berjalan dengan baik, kendati belum memunculkan efek WOW. Efek WOW ini penting agar Andika tidak dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat. Beberapa aktivitty branding Andika yang saya lihat diantaranya, Andika didekatkan dengan pemilih stylish, kelas menengah yang tidak begitu intens soal politik, tapi memiliki kemauan ingin partisipasi dalam politik, kaum urban, ibu-ibu dan pemilih pemula. Gaya campaignnya pun lebih modernis dan dekat dengan kelas menengah, terutama anak-anak muda dan kaum ibu.

Hanya saja, seperti yang saya katakan di atas belum ada campaign yang memberikan efek WOW. Mungkin ini PR bagi tim sukses Andika dalam waktu empat bulan mendatang. Personal Branding Andika memiliki pengaruh berarti bagi WH, karena WH akan lebih banyak dengan konten-konten serius, mulai dari tata kelola pemerintahan, manajamen APBD dan birokrasi serta lainnya. Sedangkan untuk konten-konten komunikasi yang ringan diambil alih Andika. Menurut saya ini perpaduan yang ideal, karena bagaimana pun pemilih kita tidak sepenuhnya ingin mendengarkan yang berat-berat, namun ditampilkan dengan konten-konten ringan.

Lalu bagaimana dengan Personal Branding Embay Muya Syarief. Sebelum ia maju di Pilkada, Embay secara tersirat sudah memiliki personal branding sendiri, yaitu sebagai Jawara Putih. Brand ini memang belum teruji secara utuh karena Embay belum pernah masuk dalam pemerintahan. Dan Pilkada ini adalah momentum ujian Embay, karena dia akan memasuki arena yang memiliki karakter khusus, karakter ini berbeda dengan arena yang selama ini ia lakoni, yaitu di luar pemerintahan.

Pengakuan ini pernah diungkapkan Embay, bahwa dia selama ini hanya di luar pemerintahan dan saatnya masuk dalam pemerintahan. Personal branding sebagai Jawara Putih juga memiliki pengaruh berarti bagi Rano yang kental dengan nuansa merahnya.Baca Juga Personal Branding WH VS Rano. Kekentalan Rano dengan Merah cukup berisiko jika tidak diminimalisir, karena Banten memiliki karakter yang kuat soal isu agama.

Personal Branding Embay memang harus melalui tahap ujian yang lebih serius, terutama ketika ia berhadapan dengan kaum urban, kelas menengah yang stylish dimana gaya hidup mereka tidak lagi mengacu pada agama dengan tampilan ulama semata, namun ia lebih menyukai tampilan Agama yang modernis, moderat, gaul dan stylish. Pada posisi ini Embay agak kesulitan jika ia tampil sendiri, tanpa dibantu oleh tim yang dekat dengan kaum ini, dan di titik inilah tim sukses akan lebih banyak berperan.

Apalagi, sebagian personal branding dengan konten agamis juga diambil oleh pasangan WH-Andika. WH bisa menjual komitmennya perihal konten religius saat ia menjabat sebagai Walikota Tangerang dengan penerbitan beberapa Peraturan Daerah (Perda) yang kental dengan nuansa syariah. Pada konteks ini ia agak sulit diserang karena telah ada bukti empirisnya.

Kemampuan Tim Embay akan diuji pada area ketika memasuki pemilih dengan karakter yang saya sebutkan di atas. Jika Tim memiliki keterampilan, cekatan dan mampu membuat aktivity branding yang mampu mengkonfirmasi bahwa sosok Embay kepada mereka maka bisa menjadi entry point.

Di ujung tulisan saya hanya ingin mengatakan bahwa mengkonfirmasi personal branding calon itu sangat penting, karena dari sini pemilih bisa melihat dengan jelas perbedaan apa yang bisa meyakinkan pemilih. Kasus-kasus pemilihan yang telah dilakukan sebelumnya sudah teruji, diantaranya kemenangan Airin Rachmi Diany, dimana ia lebih banyak memberikan pesan emosional daripada isu yang berat-berat, Baca Juga Dibalik Kemenangan Airin. Kemenangan Jokowi dengan tagline Jokowi Adalah Kita juga menjadi bukti betapa pentingnya mengkonfirmasi Personal Branding calon, tagline ini terus terang sangat mengena karena dilihat dari wajah yang ndeso, performance tampilan fisik Jokowi menggambarkan sebagian besar rakyat Indonesia,


Penulis,Karnoto
Brand Konsultan



Sabtu, 29 Oktober 2016

Uji Branding Ridwan Kamil

Unknown
Musibah banjir di Kota Bandung, Jawa Barat, tidak bisa dilihat dari sisi kekuasaan sang pencipta semata.Namun juga bisa dilihat dari sisi humanisme Ridwan Kamil. Bagi saya ini adalah ujian branding Ridwan Kamil, yang selama ini dikenal walikota kreatif, responsif dan tidak kehabisan akal untuk mengatasi semua masalah yang ada.

Ujiannya cukup keras dan jika Ridwan salah langkah bisa mematikan branding yang selama ini ia dapatkan. Jika ia lulus dalam uji branding ini maka ia banyak mendapatkan apresiasi dari publik. Bukan hanya warga Kota Bandung, melainkan warga di Indonesia termasuk saya.

Pada banjir pertama, Ridwan cukup cekatan dan meresponnya dengan cepat dan baik, terutama ia mampu membangun empati dari masyarakat dengan mengucapkan permohonan maaf. Pengakuan ini sederhana, tapi berarti bagi warga. Ini menandakan bahwa Ridwan mengakui bahwa sehebat apapun dirinya, ia hanyalah seorang manusia yang memiliki sisi kelemahan. Pengakuan permohonan maaf juga membuat warga Kota Bandung masih bertahan untuk tidak menghakimi Ridwan, apalagi memberikan stigma buruk kalau Ridwan gagal.

Warga Kota Bandung sepertinya memaklumi bahwa itu di luar kendali manusia, kendati juga mengakui bahwa ada yang belum digarap oleh sang walikota yaitu masalah drainase. Meski demikian, warga Kota Bandung dengan stylish sang walikota masih diberikan waktu, sehingga mereka pun masih memberikan kepercayaan kepada Ridwan Kamil dengan syarat agar segera memperbaiki semua penyebab human error tersebut.

Mampukah Ridwan Kamil mempertahankan personal branding sebagai walikota yang kreatif, solutif dan cepat memberikan jalan keluar terhadap segala masalah yang ada di Kota Bandung? Jika ini mampu dilakukannya maka Ridwan lulus ujian dan ia akan naik level menjadi pemimpin di ruang yang lebih besar lagi. Sebaliknya, jika ia gagal maka segala keberhasilan dan branding Ridwan akan terhapus dalam waktu sekejap.

Penulis,
Karnoto
Branding Konsultan

Rabu, 26 Oktober 2016

Irna Narulita On Twitter

Unknown
Pasca ditetapkan menjadi Bupati Pandeglang, ada yang berbeda cara Irna Narulita mengelola sosial media, khususnya twitter. Irna terlihat lebih agresif menggunakan twitter untuk memerintahkan anak buah, merespon masukan dari warga serta mempublikasikan aktivitasnya sebagai kepala daerah.

Saya tidak tahu, apakah akun twitter @IrnaDimyati99 itu dikelola sendiri, mulai dipegang, twitt sampai membalas twit dari orang lain. Namun, terlepas dari itu semua, Irna tampak cerdik dalam memanfaatkan teknologi informasi tersebut. Irna sepertinya ingin meniru gaya komunikasi selaku kepala daerah seperti yang dilakukan Ridwan Kamil, Walikota Bandung dan Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah.

Meniru yang baik tentu adalah kebaikan, apalagi memiliki manfaat yang besar bagi pengelolaan daerah. Irna selalu mengupload semua kegiatan terkait statusnya sebagai Bupati Pandeglang, daerah yang terkenal dengan julukan sejuta santri. Daerah ini juga terkenal dengan pariwisatanya, terutama Ujung Kulon.

Mulai dari pelantikan, razia miras, kunjungan ke perdesaan nyaris tidak ada yang terlewatkan di twitter. Tentu lengkap dengan tampilan hijab sederhananya membuat Irna terlihat dengan wanita cantik yang pintar. Namun, sayangnya, twits yang sejauh ini diupload masih kental dengan ceremonialnya. Hanya yang membedakan sarananya, jika selama ini hanya melalui koran atau majalah sekarang menggunakan sosial media.

Ini berbeda dengan Ridwan Kamil, yang terlihat lebih "bernyawa" dan spontanitas selain juga ada twits yang resmi. Salah satu contohnya adalah, saat Ridwan mengayuh sepeda lalu melihat ada warga melawan arus, Ridwan pun langsung mensetop warga tersebut dan meminta ia pus-up. Kontan saja, aksi sang walikota sekaligus arsitektur ini menjadi trending topik di netizen.

Mungkin apakah karena twitter Ridwan langsung dipegang sendiri, sedangkan Irna ada orang khusus yang mengendalikan twitter atasnama Irna. Meski demikian, saya tetap berbaik sangka bahwa andaikan benar akun Irna dipegang olah orang lain, mungkin karena saking sibuknya atau paling tidak kita memberikan penghargaan ini sebagai permulaan.

Teknologi informasi, seperti sosial media (twitter) tidak lagi bisa dimanfaatkan untuk kepentingan promosi produk komersial, namun bisa dimanfaatkan untuk koordinasi, pengaduan masyarakat dan sosialsiasi program oleh seorang kepala daerah.

Penulis,
Karnoto

CLIENT