Tampilkan postingan dengan label DIGITAL MARKETING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DIGITAL MARKETING. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Desember 2016

Fenomena Middle Class Muslim [Bagian 1]

Unknown


Dari Apathis Menjadi Universalist

Gaya hidup kelas menengah muslim di Indonesia telah mengalami perubahan yang radikal. Mulai dari fesyen, food, keuangan, pendidikan bahkan cara mereka memilih pemimpin.

Oleh: Karnoto

Tulisan kali ini sebenarnya masih ada hubungannya dengan Aksi Super Damai 212 Jakarta, Jumat (2/12/2016). Hanya saja konteks dan perspektif penguraiannya yang diperluas. Ada dua alasan mengapa saya tertarik menulis fenomena middle class muslim Indonesia. Pertama, kelas menengah muslim Indonesia sepertinya bergerak lebih cepat dari prediksi sejumlah kalangan menuju komunitas yang akan diperhitungkan semua kalangan. Baik dalam konteks bisnis maupun politik. Alasan kedua, kelas menengah muslim Indonesia kini mulai berani menampilkan identitasnya dalam mewarnai demokrasi.

Dalam pertemuan saya dengan Yuswohady, penulis buku Marketing to the Middle Class Muslim di Jakarta sekira dua tahun lalu. Ada hal menarik yang dia uraikan dalam bukunya tersebut. Memang yang ia bicarakan konteks marketing, namun belakangan juga merembet dalam percaturan politik, khususnya pasca Aksi Super Damai Jilid III. Yuswohady membagi empat kotak sosok konsumen muslim Indonesia, yaitu Rationalist (Gue Dapat Apa), Apathis (Emang Gue Pikirin), Conformist (Pokoknya Harus Islam) dan Universalist (Islam itu Lebih Penting).

Apa yang disampaikan Yuswohady dalam realitasnya memang demikian, kendati kita seperti “dipaksa” mengikuti perubahan demi perubahan yang lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Aksi Bela Islam Jilid III yang terjadi belakangan seperti signal bahwa kita harus segera berbenah dalam memandang Islam saat ini dan dikemudian hari. Kelas menengah muslim memiliki andil besar dalam aksi kemarin, sehingga jangan heran kalau ada isu bahwa mereka dibayar mereka langsung bereaksi dengan beragam aksi.
Mereka ingin menegaskan bahwa kalau sekadar urusan perut dan kebutuhan sehari-hari bukan lagi masalah mereka.

Diantara mereka bahkan menunjukan aksi penarikan uang (rush money) sampai membawa mobil mewah yang harganya miliaran rupiah ke dalam lokasi aksi. Tak lain karena ingin menunjukan harga diri mereka bahwa urusan dasar sudah tidak menjadi masalah bagi mereka. Belum ada stastistik pasti berapa persisnya jumlah kelas menengah muslim, namun secara umum pertumbuhan kelas menengah di Indonesia cukup menggembirakan.

Perubahan ekonomi muslim Indonesia rupanya berjalan beriringan dengan cara berpikir mereka tentang Agama. Semula sebagian menganggap bahwa Agama tidak penting dibawa-bawa ke dalam bisnis, hubungan antar personal apalagi politik. Dalam bahasa Yuswohady “Emang Gue Pikiran” (Apathis). Namun mainstream tersebut mulai berubah, dari apathis menjadi universalitas, artinya tetap menerima perubahan yang ada karena mereka sadar bahwa itu bagian dari takdir dan fenomena dunia.

Namun demikian, mereka juga tidak mau meninggalkan karakter aslinya sebagai seorang muslim. Itu makanya budaya berhijab menjamur dikalangan muslimah. Trend dan model pun beragam. Dari orang biasa, wanita karir, mahasiswa sampai artis pun tidak lagi risih mengenakan hijab. Bahkan mereka semakin percaya diri tampil dengan balutan gamis dan hijab. Dalam sektor lain pun demikian, seperti perbankan, perhotelan, asuransi, makanan dan minuman. Label halal menjadi penting bagi kelas menengah muslim, umroh dan zakat menjadi gaya hidup mereka.

Fenomena ini pun ditangkap para pelaku usaha sebagai peluang bisnis yang menggiuran, apalagi jumlah umat muslim di Indonesia mayoritas dan memiliki kekhasan sendiri. Dan kini, mainstream tersebut mulai masuk ke dalam politik. Kelas menengah tidak lagi memakai standar umum dalam memilih sosok pemimpin publik, tetapi mereka sudah menggunakan ideology sebagai patokan dalam memilih seorang pemimpin.

Kelas menengah muslim Indonesia tidak lagi bisa dibohongi bahwa menggunakan Agama sebagai dasar memilih sosok pemimpin merupakan SARA. Sebab, mereka juga sudah mengerti bahwa hal tersebut adalah ikatan emosional, seperti halnya umat Agama lain memilih pemimpin dengan standar Agama. Pilkada DKI Jakarta menjadi pilot project tentang keseriusan kelas menengah muslim perihal pilihan politik. Bagi pihak lain sebetulnya tidak perlu dipersoalkan apalagi memberikan stigma buruk bahwa alasan memilih pemimpin berdasarkan Agama adalah isu SARA apalagi kemunduran demokrasi.

Lamborghini milik peserta Aksi Damai 212 Jakarta.
Menurut penulis itu cara berpikir jumud (primitif) karena dunia telah berubah, pergulatan politik juga bergerak ke tengah. Tak hanya itu, dunia dari sejumlah literature yang saya ketahui mulai melakukan bongkar pasang ideologi untuk survival dalam mempertahankan negara. Jika masih ada orang yang apriori terhadap standar Agama dalam memilih pemimpin maka orang tersebut sesungguhnya telah tertinggal dengan perubahan dunia, khususnya perubahan kelas menengah muslim.

Karena bagi kelas menengah muslim, dimana rata-rata mereka adalah orang-orang terdidik dan memiliki kesempatan memetik hikmah ke berbagai negara lebih luas Islam adalah bingkai semua aktivitas muslim, mulai dari mengurus keluarga, pendidikan anak, berbisnis termasuk dalam berpolitik. Apalagi puluhan abad ideology Islam pernah berkuasa dan fakta sejarah membuktikan bahwa sepanjang ideology Islam berkuasa kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran sebuah wilayah terjamin.

Diakhir tulisan bagian pertama ini penulis ingin mengatakan bahwa umat Islam atau lebih tepatnya kelas menengah muslim telah memiliki kepercayaan diri untuk mengelola sumber daya alam ini termasuk dalam urusan politik. Perubahan cara pandang ini memang lebih cepat dari prediksi sejumlah kalangan. Namun sepertinya kelas menengah muslim akan tetap mampu mengikuti perubahan tersebut. Sebagian memang masih ada yang menganggap remeh hal ini, padahal fakta sejarah bahwa perubahan selalu dimotori oleh kelas menengah bukan kaum proletar.

*Penulis adalah Owner Maharti Brand - www.mahartibrand.com



Kamis, 20 Oktober 2016

Efektivitas Promosi dan Marketing Melalui Fanpage Facebook

Unknown


Sebagian orang memanfaatkan group Facebook untuk melakukan promosi, sebagian lainnya memilih untuk menggunakan fanpage. Nah, sebenarnya manakah yang lebih efektif digunakan untuk promosi dan marketing? Group ataukah fanpage Facebook?

Group sebenarnya dirancang untuk mengumpulkan orang-orang dengan minat dan tujuan yang sama. Kemampuan inilah yang lantas dimanfaatkan sebagian orang untuk mempromosikan atau memasarkan sesuatu. Tentu saja hal ini tidak melanggar ketentuan yang berlaku di Facebook, hanya memang penggunaan group seperti itu kurang tepat dilakukan dan juga tidak efektif. Sebab, Facebook secara khusus telah merancang fanpage untuk kepentingan promosi dan marketing.

Fanpage disediakan untuk menjadi halaman profil bagi artis, tokoh, perusahaan dan juga produk. Pada fitur ini, setiap orang secara bebas bisa menambahkan tag. Jumlah pengikut fanpage juga tidak dibatasi. Berbeda dengan group yang menampilkan nama-nama adminnya, pada fitur ini admin fanpage tidak terlihat sehingga berkesan lebih profesional.

Selain itu, fitur fanpage juga dilengkapi dengan fasilitas untuk memantau traffic page yang tidak dimiliki pada fitur group. Fanpage Facebook juga sudah dikenali oleh search engine sehingga mudah ditemukan oleh konsumen yang memanfaatkan search engine untuk melakukan pencarian.

Untuk promosi yang lebih serius, pemilik fanpage bisa memasukkan fanpage yang dimiliki pada iklan Facebook dengan tarif tertentu. Posting berisi promosi dan marketing yang dibuat di fanpage juga bisa muncul di newsfeed para pengikutnya. Nah, dari review ini bisa disimpulkan bahwa fanpage sesungguhnya lebih efektif digunakan untuk promosi dan marketing.

Sumber:
http://mlmstats.net/

Rabu, 19 Oktober 2016

Kampanye di Jejaring Sosial, Efektifkah?

Unknown

Marketing politik adalah konsep yang diintroduksi dari penyebaran ide-ide sosial di bidang pembangunan dengan meniru cara-cara pemasaran komersial .
~ Prof.Dr.Hafied Cangara,M.Sc;2009 ~

Mengawali tulisan ini saya sodorkan data pengguna jejaring sosial facebook di Indonesia. Berdasarkan statistik dari iCrossing, perusahaan konsultan iklan di Inggris, seperti yang beritakankompas.com,  Indonesia berada pada urutan kedua pengguna facebook dengan jumlah 35 juta pengguna. Indonesia hanya butuh 117 pengguna facebook lagi untuk mengalahkan Amerika Serikat, yang saat data ini dilansir Maret 2011 berjumlah 152 juta.
Wajar kalau kemudian sejumlah perusahaan memanfaatkan jejaring sosial ini untuk media marketing. Gaya marketing komersial inilah yang ditiru para politisi di Indonesia termasuk di Amerika Serikat. Kesuksesan Barack Obama, Presiden AS menggalang masa dari jejaring sosial ini telah menginspirasi politisi di Indonesia. Ini terjadi pada pemilu  2009 lalu yang akhirnya memenangkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden untuk kali keduanya. Meski faktor ini bukan satu-satunya yang menjadikan SBY menang, tapi teknologi ini memberikan sumbangsih besar.
Dalam laporannya yang berjudul Online Campaign Capres dan Wapres di majalah Mix Marketing Communication, edisi Desember 2011,  dikatakan bahwa gaya kampanye para calon presiden melalui jejaring social cukup efektif. Disebutkan bahwa SBY memiliki 14 halaman di facebook yang mengatasnamakan komunitas atau fans SBY, sedangkan Megawati hanya 6 halaman, Jusuf Kalla lebih sedikit yaitu 2 halaman.

Account Facebook SBY pun paling banyak dikunjungi dibandingkan calon lainnya. Penelusuran Mix hingga minggu ketiga Juni 2009, account Facebook SBY telah dikunjungi supporters sebanyak 315.138 supporters, diikuti Prabowo 47.746 supporters, lalu Boediono 14.639 supporters, Jusuf Kalla 13.246 supporters, Megawati 4.610 supporters dan paling sedikit Wiranto 2.263 supporters.
Memang Facebook bukan satu-satunya media yang membuat SBY menang, tapi dari fakta di atas media Facebook tidak bisa dianggap remeh pengaruhnya dalam memengaruhi pemilih khususnyafloting mass (masa mengambang). Kasus Prita Mulyasari, gerakan pengumpulan uang logam sukses dilakukan melalui Facebook. Atau gerakan reformasi di Mesir pun dipengaruhi oleh jejaring sosial ini.

Diperkirakan, marketing politik melalui media jejaring sosial akan tetap dilakukan pada setiap pemilu. Pertanyaanya, bagaimana caranya agar marketing melalui facebook ini berhasil?. Dalam teori manajemen strategi, kita diharuskan mengetahui lingkungan sebelum melakukan pemasaran apalagi promosi. Tujuannya agar kita menembak pada tepat sasaran sesuai target yang kitan bidik. Anda perlu tahu data pengguna Facebook. Darimana? Kita bisa melakukan riset sendiri atau mengambil dari penelitan yang telah dilakukan sejumlah lembaga.

Berdasarkan hasil penelitian Icrossing, disebutkan bahwa pengguna Facebook di Indonesia usianya rata-rata 20 tahunan. "Di Inggris dan Amerika rata-rata pengguna Facebook berusia 31 tahun, namun di negara seperti India, Filipina, dan Indonesia rata-rata usia 20 tahunan," tulis Gregory Lyons seperti yang dikutip kompas.com. 

Kedua, Anda harus menyusun kata-kata yang hendak disampaikan ke publik. Kata-kata ini tidak kalah pentingnnya menentukan keberhasilan sebuah marketing produk ataupun gagasan. Bahasa harus disesuaikan dengan target pasar yang kita bidik. Komunikasi harus efektif sehingga persepsi yang ingin kita sampaikan kepada audiens bisa diterima. Menurut Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss di dalam buku Psikologi Sosial, karangan Jalaludin Rakhmat, komunikasi efektif menimbulkan lima hal, yaitu pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang baik dan tindakan.


Ketiga, sebaiknya komentator dari pertemanan Anda di Facebook dijawab sendiri sehingga hubungan emosionalnya akan lebih deket daripada dituliskan orang lain. Ini yang disarankan pakar marketing Indonesia Hermawan Kartajaya. Menurut Hermawan, kampanye di media online merupakan tindakan yang cerdik dan menarik pemilih. “Sebaiknya kampanye melalui Facebook dikelola sendiri, karena pemilih akan merasa lebih dekat,” kata Hermawan.

CLIENT