Adu Strategi dan Perang Opini
Semua orang berkata menang di medan tempur itu baik,
padahal tidak. Jenderal yang memenangkan setiap pertempuran
bukanlah jagoan sejati.
Membuat musuh kalah tanpa bertempur
itulah kuncinya. Lebih baiklah menjaga keutuhan negeri
daripada menghancurkannya.
Mengalahkan lawan tanpa bertempur
Itulah puncak kemahiran.
Mengalahkan lawan tanpa bertempur Itulah puncak kemahiran.
--- Sun Tzu ---
Oleh: Karnoto
Pertempuran yang paling melelahan sesungguhnya adalah pertempuran opini. Sebab kita harus memfungsikan seluruh sel otak, urat syarat, ketenangan jiwa termasuk nutrisi gizi agar selalu berfikir jernih.Sebab pertempuran opini lebih samar dan halus, kemampuan meracik kata per kata menjadi kalimat yang bermakna menjadi kunci utama dalam memenangkan pertempuran opini. Tidak gampang memang, tetapi juga bukan perkara yang sulit, apalagi bagi kelas menengah muslim yang bertahun-tahun “dipaksa” membaca buku, baik buku teks maupun konteks.
Kalau saya tidak salah dalam sejarah Nabi Muhammad SAW, perang opini sering terjadi dan inilah hebatnya Nabi yang mampu menangkap sesuatu yang orang lain tidak tahu. Kalau dalam bahasa sekarang menangkap “Berita di Balik Berita”. Terkadang kita tertipun dengan opini yang seakan-akan menguntungkan umat muslim padahal ada “Mirong di Balik Gorengan”.
Masih ingat Majalah Obor?. Majalah ini begitu terkenal ketika masa Pilpres tiga tahun lalu. Isinya hujatan, cacian dan demarketisasi Jokowi. Majalah itu masuk ke pesantren-pesantren, majelis taklim dan warung kopi. Ketenarannya mengalahkan media cetak yang sudah puluhan tahun berdiri. Ketika itu, pendukung Prabowo begitu semangat 45 untuk menyebarkan majalah yang isinya penghakiman pada Jokowi. Lalu apa yang terjadi? Jokowi menang atas Prabowo.
Apa yang terjadi sekarang, Velix Vernando Wanggai menjadi Komisaris PT Aneka Tambang Tbk, sebuah BUMN yang sekarang presidennya adalah Jokowi. Mungkin ada faktor lain, tapi dalam konteks opini kita “terjebak” padahal kita begitu paham bahwa masyarakat Indonesia itu gampang “memelas”, mereka cepat menaruh simpati kepada orang yang dicaci. Tidak heran sebagian orang rela menjadi objek untuk dikesankan dizalimi agar ada simpati.
Inilah yang sedang dimainkan Ahok oleh para buzzernya. Beruntung Aksi Super Damai Jilid 3 kemarin kita berlangsung apik dan mengundang simpatik banyak orang. Oh ya lupa, saya mau cerita perang opini pada salah satu pertempuran yang pernah dilakukan oleh pasukan umat muslim bersama Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, posisi umat muslim sedang sumringah karena jumlahnya banyak, tapi karena terlena akhirnya dalam peperangan justru terdesak.
Musuh pasukan muslim mengerti betul psikologi umat muslim, bahwa mengalahkan perang secara terbuka mustahil maka harus ada strategi jitu yang halus. Perang opini, itulah strategi musuh yang nyaris sukses jika tidak ada pertolongan Allah SWT. Saat perang dan pasukan umat muslim terdesak, musuh Islam membuat opini bahwa Rasululah telah meninggal di tangan pedang orang kafir.
Kabar ini berhembus ke pasukan muslim dan sempat melumpuhkan semangat pasukan muslim. “Rasulullah masih hidup, Rasulullah masih hidup,” teriak sahabat Nabi dengan semangat sembari memperlihatkan posisi Rasulullah. Seketika itu pula semangat pasukan muslim bergelora kembali dan berhasil memenangkan pertempuran.
Itulah yang saya katakan dari awal bahwa pertempuran opini jauh lebih melelahkan, repot dan butuh kecerdikan khusus. Sebab perang opini tidak terlihat seperti perang fisik. Pertempuran terkadang dilakukan jarak jauh dan hanya bermodalkan deretan kata dan kalimat yang dikirim secara berantai. Bagi kita, umat muslim sebetulnya Nabi sudah mengajarkan cara mengalahkan pertempuran. Rentetan peristiwa Rasulullah dalam berbagai pertempuran sesungguhnya mengajarkan kita agar selalu menang.
Bahkan Rasulullah mengajarkan kita bagaimana cara memenangkan pertempuran tanpa harus bertempur.
Jika kita baca Sirah Nabawiyah, kita akan menemukan kisah bagaimana Rasulullah menaklukan musuh tanpa harus bertempur. Ingat kisah Futtuh Makkah?. Dalam sirah, sebelum Rasulullah tiba di Mekkah, sejumlah sahabat dikirim untuk menyampaikan opini bahwa Rasulullah datang bersama pasukannya yang jumlahnya cukup banyak. Informasi itu sampai kepada musuh dan orang-orang kafir yang di Mekkah. Mereka pun ciut nyalinya, sebagian bersembunyi dan berlari. Dari sini Rasulullah sesungguhnya telah memenangkan pertempuran, tanpa harus perang. Saat pasukannya mendekat suara langkah kaki sengaja dihentakan sehingga suaranya semakin menggetarkan, gema salawat dan takbir diteriakan dengan lantang agar orang-orang di Mekkah tahu bahwa memang benar pasukan Rasulullah SAW begitu banyak. Dan Futtuh Mekkah pun diraih, tanpa harus perang. Inilah revolusi damai sepanjang sejarah yang terjadi di dunia. Tanpa pertumpahan darah.
Dalam kisah lain, Rasulullah juga melakukan perang opini dengan orang-orang kafir. Persisnya saat melakukan Shalat Idul Fitri di Mekkah. Ketika itu, Rasulullah memerintahkan umat muslim untuk dating ke lapangan menggunakan jalur A dan pulangnya ke jalur B. Ini dimaksudkan untuk membuat opini bahwa jumlah umat muslim memang besar.
Perangn opini memang strategi psikis terhadap musuh. Dulu, sejumlah raja membuat sungai kecil dan diisi buaya-buaya, benteng tinggi dan pasukan yang menyeramkan. Maksdunya adalah untuk membuat opini bahwa kerjaaan tersebut memang kuat dan menakutkan. Biasanya dibuat pada jalur menuju ke ruang utama raja sehingga ketika seseorang mau menghadap sang raja psikisnya sudah melemah.
Konteks Kekinian
Beberapa tahun terakhir, kita memang menghadapi perang opini yang begitu dahsyat melalui media mainstream dan sosial media. Pada pertempuran media mainstream jelas umat muslim kalah telak karena tidak memiliki media sendiri. Namun beruntung, sebagian umat muslim telah beranjak naik ekonominya menjadi kelas menengah sehingga mau berfikir. Paling tidak untuk survive menghadapi perang opini. Dan social media adalah pilihannya. Pilihan ini masuk akal, rasional dan terbukti sedikit demi sedikit bisa menghalau opini public terhadap umat muslim.
Aksi Damai 411 dan 212 tahun 2016 menjadi laboratorum sekaligus uji kemampuan kelas menengah muslim dalam duet melalui opini. Pada aksi 411, umat muslim diserang dengan objek perusakan taman dan ricuh, tapi bersyukur karena pada aksi 212 umat muslim berhasil membalasnya dengan menang telak. Aksi simpati tanpa kerusakan taman dan damai diviralkan dengan massif sehingga muncul simpatik dari public.
Bahkan persiapan “perang” opini menghadapi aksi tandingan 412 pun sudah dilakukan melalui social media, seperti himbauan untuk tidak memposting atau komentar aksi 412 karena itu dikhawatirkan akan menjadi trending topic, mengalahkan aksi 212. Keberhasilan panitia menghadirkan Jokowi dalam Aksi Super Damai Jilid 3 juga menjadi entry point. Paling tidak ini memberikan singal bahwa posisi Ahok memang sedang terjepit.
Saya memprediksikan “perang” opini akan semakin memanas seiring dengan dinamika politik yang terjadi sekarang. Bukan saja ditingkat tanah air, tetapi tingkat dunia yang memang sedang bergejolak. Semoga umat muslim semakin cerdas dan mampu menguasai medan pertempuran “perang” opini. Foto dan rangkaian kalimat menjadi sebuah tulisan adalah keniscayaan. Kita harus mampu meracik ide dan gagasan dengan bahasa yang membumi sehingga seprihan hikmah bisa kita kemas dalam bahasa kaum kita.
Butuh keterampilan memang, butuh ketalatenan dan butuh keseriusan. Namun percayalah, “perang” opini ini akan menjadi penentu kemenangan kita. Berapapun jumlah masa kita, sebagus apapun aksi kita, tanpa opini yang terampil maka akan menjadi senjata makan tuan. Wallahu’alam.
*Penulis adalah Alumni KAMMI Banten, Owner Maharti Brand
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL. Tampilkan semua postingan
Minggu, 04 Desember 2016
ARTIKEL

Restore The Greatness of Islam and Indonesia
Benturan peradaban dan ideologi akan terjadi, itulah prediksi Huntington beberapa tahun silam. Dan kini sedang terjadi, dimana posisi kita?.
Oleh: Karnoto
Jika Donal Trump mampu mengoyak benteng pertahanan Hillary Clinton dengan taglinenya “Make Amerika Great Again” maka umat Islam seharusnya lebih heroik daripada Trump. Saya tidak tahu, apakah Trum telah membaca ghiroh umat muslim terlebih dahulu sebelum mengeluarkan tagline tersebut. Sebab gaung umat muslim yang ingin mengembalikan kebesaran Islam begitu nyaring terdengar sejak beberapa tahun lalu. Dan gaung ini diperjelas oleh Turki dengan agenda besar di 2023, dimana tahun tersebut akan dijadikan titik awal mengembalikan kejayaan Kesultanan Utsnami.
Gejala ini bak virus yang menjalar keseluruh bagian tubuh dan salah satunya adalah umat muslim di Indonesia. Sejumlah aktivis pergerakan, ulama dan tokoh muslim begitu gencar memberikan pesan reminder perihal pahlawan kemerdekaan bangsa, yang faktanya memang adalah tokoh muslim. Mereka diantaranya Pangeran Diponegoro, Cut Nya Dien, Tuanku Imam Bonjol, Muhammad Hatta, Budi Utomo, Jenderal Sudirman dan deretan tokoh muslim yang jadi pahlawan.
Mereka adalah muslim dari kalangan kelas menengah ke atas, karena memang kelas menengahlah yang mampu melakukan perubahan, sebagaimana saya tulis pada bagian pertama. Sebelum ada peristiwa Aksi Super Damai Jilid 3 sebagian masih menoleh karena tidak yakin atau meyangsikan, mengingat perseteruan antar umat dilevel menengah masih cukup tajam.
Namun pasca Aksi Super Damai Jilid 3, keraguan itu mulai memudar dan yang ada keyakinan. Yah, keyakinan bahwa peradaban Islam akan kembali bisa direbut dan mewarnai dunia, khususnya Indonesia. Bagi orang-orang Anti Islam atau orang-orang yang terkena “sihir” para phobia Islam mengaku cemas. Mereka khawatir Indonesia akan berganti menjadi negara Islam, hukum potong tangan, rajam dan ketakutan-ketakutan lainnya membayang-bayangi mereka.
Aksi Super Damai Jilid 3 ternyata menyapu bersih ketakutan mereka semacam itu. Aksi dengan jutaan orang tetapi damai menjadi entry point bagi umat Islam. Bukan hanya dari sisi imaje building, namun juga meredam dan meredupkan rasa was-was umat lain. Beberapa umat dari Agama lain yang hadir langsung merasakan itu dan mereka pun berani memberikan jaminan bahwa umat muslim Indonesia tidak menyeramkan sebagaimana yang digambarkan oleh orang-orang yang benci dengan Islam selama ini.
Aksi Super Damai Jilid 3 menjadi ilustrasi bahwa seperti itulah nanti ketika peradaban Islam memimpin.
Tak ada taman rusak, tak ada kerusuhan, saling menghargai, saling memberi dan ikatan persaudaraan muslim yang begitu kokoh, tak peduli darimana asalnya. Bagaimana para ulama menyambut rombongan Ciamis, Jawa Barat, yang berjalan kaki disambut dengan begitu hangat. Rombongan Ciamis diberikan tempat khusus karena umat muslim lain tahu betapa gigihnya perjuangan mereka untuk sampai ke Jakarta.
Itulah sesungguhnya kebesaran Islam yang pernah dinikmati masyarakat dunia ketika Nabi Muhammad, khalifah hingga Utsmani. Dan kita sebagai generasi kelas menengah muslim harus memiliki tekad untuk mengembalikan kebesaran Islam. Bagi umat lain, Anda tidak perlu khawatir karena Islam akan menjadi Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi semua. Anda juga tidak perlu meninggalkan Indonesia ketika muslim berkuasa, duduklah dan bekerjalah sebagaimana biasanya.
Generasi kelas menengah muslim sekarang sudah memiliki kesadaran kolektif. Kalau seorang Donald Trum saja memiliki tekad mengembalikan kebesaran Amerika, mengapa umat muslim tidak!. Generasi kelas menengah muslim tak hanya ingin mengembalikan kejayaan Islam, namun juga ingin mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai Negara yang patut jadi contoh tentang Bhineka Tunggal Ika, tentang harmonisasi hidup antar umat beragama dan contoh tentang arti demokrasi yang sesungguhnya.
*Penulis adalah Owner Maharti Brand - www.mahartibrand.com
Unknown
15.45.00

Restore The Greatness of Islam and Indonesia
Benturan peradaban dan ideologi akan terjadi, itulah prediksi Huntington beberapa tahun silam. Dan kini sedang terjadi, dimana posisi kita?.
Oleh: Karnoto
Jika Donal Trump mampu mengoyak benteng pertahanan Hillary Clinton dengan taglinenya “Make Amerika Great Again” maka umat Islam seharusnya lebih heroik daripada Trump. Saya tidak tahu, apakah Trum telah membaca ghiroh umat muslim terlebih dahulu sebelum mengeluarkan tagline tersebut. Sebab gaung umat muslim yang ingin mengembalikan kebesaran Islam begitu nyaring terdengar sejak beberapa tahun lalu. Dan gaung ini diperjelas oleh Turki dengan agenda besar di 2023, dimana tahun tersebut akan dijadikan titik awal mengembalikan kejayaan Kesultanan Utsnami.
Gejala ini bak virus yang menjalar keseluruh bagian tubuh dan salah satunya adalah umat muslim di Indonesia. Sejumlah aktivis pergerakan, ulama dan tokoh muslim begitu gencar memberikan pesan reminder perihal pahlawan kemerdekaan bangsa, yang faktanya memang adalah tokoh muslim. Mereka diantaranya Pangeran Diponegoro, Cut Nya Dien, Tuanku Imam Bonjol, Muhammad Hatta, Budi Utomo, Jenderal Sudirman dan deretan tokoh muslim yang jadi pahlawan.
Mereka adalah muslim dari kalangan kelas menengah ke atas, karena memang kelas menengahlah yang mampu melakukan perubahan, sebagaimana saya tulis pada bagian pertama. Sebelum ada peristiwa Aksi Super Damai Jilid 3 sebagian masih menoleh karena tidak yakin atau meyangsikan, mengingat perseteruan antar umat dilevel menengah masih cukup tajam.
Namun pasca Aksi Super Damai Jilid 3, keraguan itu mulai memudar dan yang ada keyakinan. Yah, keyakinan bahwa peradaban Islam akan kembali bisa direbut dan mewarnai dunia, khususnya Indonesia. Bagi orang-orang Anti Islam atau orang-orang yang terkena “sihir” para phobia Islam mengaku cemas. Mereka khawatir Indonesia akan berganti menjadi negara Islam, hukum potong tangan, rajam dan ketakutan-ketakutan lainnya membayang-bayangi mereka.
Aksi Super Damai Jilid 3 ternyata menyapu bersih ketakutan mereka semacam itu. Aksi dengan jutaan orang tetapi damai menjadi entry point bagi umat Islam. Bukan hanya dari sisi imaje building, namun juga meredam dan meredupkan rasa was-was umat lain. Beberapa umat dari Agama lain yang hadir langsung merasakan itu dan mereka pun berani memberikan jaminan bahwa umat muslim Indonesia tidak menyeramkan sebagaimana yang digambarkan oleh orang-orang yang benci dengan Islam selama ini.Aksi Super Damai Jilid 3 menjadi ilustrasi bahwa seperti itulah nanti ketika peradaban Islam memimpin.
Tak ada taman rusak, tak ada kerusuhan, saling menghargai, saling memberi dan ikatan persaudaraan muslim yang begitu kokoh, tak peduli darimana asalnya. Bagaimana para ulama menyambut rombongan Ciamis, Jawa Barat, yang berjalan kaki disambut dengan begitu hangat. Rombongan Ciamis diberikan tempat khusus karena umat muslim lain tahu betapa gigihnya perjuangan mereka untuk sampai ke Jakarta.
Itulah sesungguhnya kebesaran Islam yang pernah dinikmati masyarakat dunia ketika Nabi Muhammad, khalifah hingga Utsmani. Dan kita sebagai generasi kelas menengah muslim harus memiliki tekad untuk mengembalikan kebesaran Islam. Bagi umat lain, Anda tidak perlu khawatir karena Islam akan menjadi Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi semua. Anda juga tidak perlu meninggalkan Indonesia ketika muslim berkuasa, duduklah dan bekerjalah sebagaimana biasanya.
Generasi kelas menengah muslim sekarang sudah memiliki kesadaran kolektif. Kalau seorang Donald Trum saja memiliki tekad mengembalikan kebesaran Amerika, mengapa umat muslim tidak!. Generasi kelas menengah muslim tak hanya ingin mengembalikan kejayaan Islam, namun juga ingin mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai Negara yang patut jadi contoh tentang Bhineka Tunggal Ika, tentang harmonisasi hidup antar umat beragama dan contoh tentang arti demokrasi yang sesungguhnya.
*Penulis adalah Owner Maharti Brand - www.mahartibrand.com
ARTIKEL, DIGITAL MARKETING
Dari Apathis Menjadi Universalist
Gaya hidup kelas menengah muslim di Indonesia telah mengalami perubahan yang radikal. Mulai dari fesyen, food, keuangan, pendidikan bahkan cara mereka memilih pemimpin.
Oleh: Karnoto
Tulisan kali ini sebenarnya masih ada hubungannya dengan Aksi Super Damai 212 Jakarta, Jumat (2/12/2016). Hanya saja konteks dan perspektif penguraiannya yang diperluas. Ada dua alasan mengapa saya tertarik menulis fenomena middle class muslim Indonesia. Pertama, kelas menengah muslim Indonesia sepertinya bergerak lebih cepat dari prediksi sejumlah kalangan menuju komunitas yang akan diperhitungkan semua kalangan. Baik dalam konteks bisnis maupun politik. Alasan kedua, kelas menengah muslim Indonesia kini mulai berani menampilkan identitasnya dalam mewarnai demokrasi.
Dalam pertemuan saya dengan Yuswohady, penulis buku Marketing to the Middle Class Muslim di Jakarta sekira dua tahun lalu. Ada hal menarik yang dia uraikan dalam bukunya tersebut. Memang yang ia bicarakan konteks marketing, namun belakangan juga merembet dalam percaturan politik, khususnya pasca Aksi Super Damai Jilid III. Yuswohady membagi empat kotak sosok konsumen muslim Indonesia, yaitu Rationalist (Gue Dapat Apa), Apathis (Emang Gue Pikirin), Conformist (Pokoknya Harus Islam) dan Universalist (Islam itu Lebih Penting).
Apa yang disampaikan Yuswohady dalam realitasnya memang demikian, kendati kita seperti “dipaksa” mengikuti perubahan demi perubahan yang lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Aksi Bela Islam Jilid III yang terjadi belakangan seperti signal bahwa kita harus segera berbenah dalam memandang Islam saat ini dan dikemudian hari. Kelas menengah muslim memiliki andil besar dalam aksi kemarin, sehingga jangan heran kalau ada isu bahwa mereka dibayar mereka langsung bereaksi dengan beragam aksi.
Mereka ingin menegaskan bahwa kalau sekadar urusan perut dan kebutuhan sehari-hari bukan lagi masalah mereka.
Diantara mereka bahkan menunjukan aksi penarikan uang (rush money) sampai membawa mobil mewah yang harganya miliaran rupiah ke dalam lokasi aksi. Tak lain karena ingin menunjukan harga diri mereka bahwa urusan dasar sudah tidak menjadi masalah bagi mereka. Belum ada stastistik pasti berapa persisnya jumlah kelas menengah muslim, namun secara umum pertumbuhan kelas menengah di Indonesia cukup menggembirakan.
Perubahan ekonomi muslim Indonesia rupanya berjalan beriringan dengan cara berpikir mereka tentang Agama. Semula sebagian menganggap bahwa Agama tidak penting dibawa-bawa ke dalam bisnis, hubungan antar personal apalagi politik. Dalam bahasa Yuswohady “Emang Gue Pikiran” (Apathis). Namun mainstream tersebut mulai berubah, dari apathis menjadi universalitas, artinya tetap menerima perubahan yang ada karena mereka sadar bahwa itu bagian dari takdir dan fenomena dunia.
Namun demikian, mereka juga tidak mau meninggalkan karakter aslinya sebagai seorang muslim. Itu makanya budaya berhijab menjamur dikalangan muslimah. Trend dan model pun beragam. Dari orang biasa, wanita karir, mahasiswa sampai artis pun tidak lagi risih mengenakan hijab. Bahkan mereka semakin percaya diri tampil dengan balutan gamis dan hijab. Dalam sektor lain pun demikian, seperti perbankan, perhotelan, asuransi, makanan dan minuman. Label halal menjadi penting bagi kelas menengah muslim, umroh dan zakat menjadi gaya hidup mereka.
Fenomena ini pun ditangkap para pelaku usaha sebagai peluang bisnis yang menggiuran, apalagi jumlah umat muslim di Indonesia mayoritas dan memiliki kekhasan sendiri. Dan kini, mainstream tersebut mulai masuk ke dalam politik. Kelas menengah tidak lagi memakai standar umum dalam memilih sosok pemimpin publik, tetapi mereka sudah menggunakan ideology sebagai patokan dalam memilih seorang pemimpin.
Kelas menengah muslim Indonesia tidak lagi bisa dibohongi bahwa menggunakan Agama sebagai dasar memilih sosok pemimpin merupakan SARA. Sebab, mereka juga sudah mengerti bahwa hal tersebut adalah ikatan emosional, seperti halnya umat Agama lain memilih pemimpin dengan standar Agama. Pilkada DKI Jakarta menjadi pilot project tentang keseriusan kelas menengah muslim perihal pilihan politik. Bagi pihak lain sebetulnya tidak perlu dipersoalkan apalagi memberikan stigma buruk bahwa alasan memilih pemimpin berdasarkan Agama adalah isu SARA apalagi kemunduran demokrasi.
Menurut penulis itu cara berpikir jumud (primitif) karena dunia telah berubah, pergulatan politik juga bergerak ke tengah. Tak hanya itu, dunia dari sejumlah literature yang saya ketahui mulai melakukan bongkar pasang ideologi untuk survival dalam mempertahankan negara. Jika masih ada orang yang apriori terhadap standar Agama dalam memilih pemimpin maka orang tersebut sesungguhnya telah tertinggal dengan perubahan dunia, khususnya perubahan kelas menengah muslim.
Karena bagi kelas menengah muslim, dimana rata-rata mereka adalah orang-orang terdidik dan memiliki kesempatan memetik hikmah ke berbagai negara lebih luas Islam adalah bingkai semua aktivitas muslim, mulai dari mengurus keluarga, pendidikan anak, berbisnis termasuk dalam berpolitik. Apalagi puluhan abad ideology Islam pernah berkuasa dan fakta sejarah membuktikan bahwa sepanjang ideology Islam berkuasa kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran sebuah wilayah terjamin.
Diakhir tulisan bagian pertama ini penulis ingin mengatakan bahwa umat Islam atau lebih tepatnya kelas menengah muslim telah memiliki kepercayaan diri untuk mengelola sumber daya alam ini termasuk dalam urusan politik. Perubahan cara pandang ini memang lebih cepat dari prediksi sejumlah kalangan. Namun sepertinya kelas menengah muslim akan tetap mampu mengikuti perubahan tersebut. Sebagian memang masih ada yang menganggap remeh hal ini, padahal fakta sejarah bahwa perubahan selalu dimotori oleh kelas menengah bukan kaum proletar.
*Penulis adalah Owner Maharti Brand - www.mahartibrand.com
Unknown
05.00.00
Dari Apathis Menjadi Universalist
Gaya hidup kelas menengah muslim di Indonesia telah mengalami perubahan yang radikal. Mulai dari fesyen, food, keuangan, pendidikan bahkan cara mereka memilih pemimpin.
Oleh: Karnoto
Tulisan kali ini sebenarnya masih ada hubungannya dengan Aksi Super Damai 212 Jakarta, Jumat (2/12/2016). Hanya saja konteks dan perspektif penguraiannya yang diperluas. Ada dua alasan mengapa saya tertarik menulis fenomena middle class muslim Indonesia. Pertama, kelas menengah muslim Indonesia sepertinya bergerak lebih cepat dari prediksi sejumlah kalangan menuju komunitas yang akan diperhitungkan semua kalangan. Baik dalam konteks bisnis maupun politik. Alasan kedua, kelas menengah muslim Indonesia kini mulai berani menampilkan identitasnya dalam mewarnai demokrasi.
Dalam pertemuan saya dengan Yuswohady, penulis buku Marketing to the Middle Class Muslim di Jakarta sekira dua tahun lalu. Ada hal menarik yang dia uraikan dalam bukunya tersebut. Memang yang ia bicarakan konteks marketing, namun belakangan juga merembet dalam percaturan politik, khususnya pasca Aksi Super Damai Jilid III. Yuswohady membagi empat kotak sosok konsumen muslim Indonesia, yaitu Rationalist (Gue Dapat Apa), Apathis (Emang Gue Pikirin), Conformist (Pokoknya Harus Islam) dan Universalist (Islam itu Lebih Penting).
Apa yang disampaikan Yuswohady dalam realitasnya memang demikian, kendati kita seperti “dipaksa” mengikuti perubahan demi perubahan yang lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Aksi Bela Islam Jilid III yang terjadi belakangan seperti signal bahwa kita harus segera berbenah dalam memandang Islam saat ini dan dikemudian hari. Kelas menengah muslim memiliki andil besar dalam aksi kemarin, sehingga jangan heran kalau ada isu bahwa mereka dibayar mereka langsung bereaksi dengan beragam aksi.
Mereka ingin menegaskan bahwa kalau sekadar urusan perut dan kebutuhan sehari-hari bukan lagi masalah mereka.
Diantara mereka bahkan menunjukan aksi penarikan uang (rush money) sampai membawa mobil mewah yang harganya miliaran rupiah ke dalam lokasi aksi. Tak lain karena ingin menunjukan harga diri mereka bahwa urusan dasar sudah tidak menjadi masalah bagi mereka. Belum ada stastistik pasti berapa persisnya jumlah kelas menengah muslim, namun secara umum pertumbuhan kelas menengah di Indonesia cukup menggembirakan.Perubahan ekonomi muslim Indonesia rupanya berjalan beriringan dengan cara berpikir mereka tentang Agama. Semula sebagian menganggap bahwa Agama tidak penting dibawa-bawa ke dalam bisnis, hubungan antar personal apalagi politik. Dalam bahasa Yuswohady “Emang Gue Pikiran” (Apathis). Namun mainstream tersebut mulai berubah, dari apathis menjadi universalitas, artinya tetap menerima perubahan yang ada karena mereka sadar bahwa itu bagian dari takdir dan fenomena dunia.
Namun demikian, mereka juga tidak mau meninggalkan karakter aslinya sebagai seorang muslim. Itu makanya budaya berhijab menjamur dikalangan muslimah. Trend dan model pun beragam. Dari orang biasa, wanita karir, mahasiswa sampai artis pun tidak lagi risih mengenakan hijab. Bahkan mereka semakin percaya diri tampil dengan balutan gamis dan hijab. Dalam sektor lain pun demikian, seperti perbankan, perhotelan, asuransi, makanan dan minuman. Label halal menjadi penting bagi kelas menengah muslim, umroh dan zakat menjadi gaya hidup mereka.
Fenomena ini pun ditangkap para pelaku usaha sebagai peluang bisnis yang menggiuran, apalagi jumlah umat muslim di Indonesia mayoritas dan memiliki kekhasan sendiri. Dan kini, mainstream tersebut mulai masuk ke dalam politik. Kelas menengah tidak lagi memakai standar umum dalam memilih sosok pemimpin publik, tetapi mereka sudah menggunakan ideology sebagai patokan dalam memilih seorang pemimpin.
Kelas menengah muslim Indonesia tidak lagi bisa dibohongi bahwa menggunakan Agama sebagai dasar memilih sosok pemimpin merupakan SARA. Sebab, mereka juga sudah mengerti bahwa hal tersebut adalah ikatan emosional, seperti halnya umat Agama lain memilih pemimpin dengan standar Agama. Pilkada DKI Jakarta menjadi pilot project tentang keseriusan kelas menengah muslim perihal pilihan politik. Bagi pihak lain sebetulnya tidak perlu dipersoalkan apalagi memberikan stigma buruk bahwa alasan memilih pemimpin berdasarkan Agama adalah isu SARA apalagi kemunduran demokrasi.
![]() |
| Lamborghini milik peserta Aksi Damai 212 Jakarta. |
Karena bagi kelas menengah muslim, dimana rata-rata mereka adalah orang-orang terdidik dan memiliki kesempatan memetik hikmah ke berbagai negara lebih luas Islam adalah bingkai semua aktivitas muslim, mulai dari mengurus keluarga, pendidikan anak, berbisnis termasuk dalam berpolitik. Apalagi puluhan abad ideology Islam pernah berkuasa dan fakta sejarah membuktikan bahwa sepanjang ideology Islam berkuasa kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran sebuah wilayah terjamin.
Diakhir tulisan bagian pertama ini penulis ingin mengatakan bahwa umat Islam atau lebih tepatnya kelas menengah muslim telah memiliki kepercayaan diri untuk mengelola sumber daya alam ini termasuk dalam urusan politik. Perubahan cara pandang ini memang lebih cepat dari prediksi sejumlah kalangan. Namun sepertinya kelas menengah muslim akan tetap mampu mengikuti perubahan tersebut. Sebagian memang masih ada yang menganggap remeh hal ini, padahal fakta sejarah bahwa perubahan selalu dimotori oleh kelas menengah bukan kaum proletar.
*Penulis adalah Owner Maharti Brand - www.mahartibrand.com
Minggu, 30 Oktober 2016
ARTIKEL, KOMUNIKASI POLITIK
Mengawali tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca membuka memori otak kita tentang presiden Indonesia, Soekarno, Soeharto, Gusdur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa dikenal dengan singkatan SBY serta Jokowi. Manfaatnya apa?. Ini ada kaitannya dengan tema tulisan. Ide awal menulis tema tentang Emotional Politic ini muncul ketika saya membaca buku karangan Marc Gobe, seorang ahli branding merek yang berjudul Emotional Branding.
Marc memang tidak membahas tentang politik tetapi khusus mengenai branding merek- merek terkenal di Amerika Serikat. Namun menurut penulis branding merek pada produk komersial tidak jauh berbeda dengan politik. Saya merasa yakin kalau kesimpulan ini tidak keliru 100 persen karena berdasarkan bukti empiris. Sebagai seorang jurnalis saya menemukan fakta-fakta yang membuktikan bahwa dalam konteks strategi marketing produk komersial 99,9 persen memiliki kesamaan dengan strategi marketing politik. Mulai dari Marketing Communication Consept, manajemen event, advertising hingga branding personal. Bahkan sampai hal teknis seperti direct selling, manajemen distribusi hingga manajemen risiko, nyaris tidak ada bedanya.
Istilahnya saja yang berbeda tetapi pada substansinya sama, yaitu bagaimana memengaruhi konsumen dalam hal ini pemilih agar menjadi konsumen (pemilih) loyal sehingga menguntungkan partai politik. Dengan menguasai pasar maka bisa lebih lama menjadi market leader sehingga menjadi partai pemenang sepanjang massa. Kita buka memori pertama yaitu Presiden Soekarno. Sang proklamator ini sangat menonjol pada sisi emotional branding. Cara dia berpidato, cara dia membangkitkan semangat rakyatnya, cara dia memperlakukan tamu negara dan hingga tukang masak istana pun Soekarno selalu melakukan emotional politic.
Emotional politic inilah yang membuat Soekarno masih memiliki pendukung loyal hingga kini. Bukan saja pribadi Soekarno, tetapi barang-barang peninggalan Soekarno mulai dari cincin sampai isu soal harta karun Soekarno. Inilah pendekatan politik riil yang ternyata menjadi metode modern oleh sejumlah perusahaan ternama dan diadopsi oleh para politisi. Dalam produk komersial, sebuah merek yang ingin memiliki konsumen loyal dan bertahan lebih lama harus mengguggah perasaan konsumen.
Lihat gaya komunikasi yang dilakukan Sariwangi di layar televisi, sangat emotional.
Dalam iklannya, Sariwangi menggambarkan seorang suami yang kesel kepada istri karena pesan singkatnya yang menanyakan menu makan hari itu tetapi ternyata istri tidak tahu kalau sang suami mengirim pesan singkat. Apa yang terjadi, disitulah Sariwangi hadir seperti ingin menggambarkan bahwa kalau suami sedang kesel sajikan saja Sariwangi maka akan tersenyum kembali. Sederhana dan mengguggah emotional keluarga Indonesia.
Ini pula yang dilakukan Teh Botol Sosro. Komunikasi produk ini begitu sederhana dan menyentuh perasaan konsumen di Indonesia. Apapun Makannya, Minumnya The Botol Sosro, sebuah tagline dan gaya komunikasi yang cerdas karena mampu mengguggah emosional konsumen Indonesia. Wajar kalau produknya bertengger di papan atas. Inilah yang disebut Marc Gobe suatu merek menjadi hidup bagi masyarakat dan membentuk hubungan mendalam dan tahan lama. Kembali pada politik, emotional politic juga dilakukan Soeharto.
Bagaimana ia mampu mendoktrin azas Pancasila, bagaimana Soeharto membentuk opini publik bahwa dialah bapak pembangunan. Dan yang tidak kalah pentingnya bagaimana Soeharto membangun hubungan emotional yang cukup kuat dengan kalangan militer. Lagi-lagi semua itu adalah bagian dari emotional politic. Ini pula yang dilakukan Megawati Soekarnoputri yang ketika itu dijadikan simbol wong cilik. Emosi rakyat kecil disentuh sehingga mengguggah rasa dan kesetiaan rakyat terhadap Megawati.
Presiden SBY pun demikian. Emotional politic dia lakukan sehingga terpilih untuk kali keduanya menjadi presiden. Ia dikenal sosok yang memiliki paras gagah dan dalam posisi terzalimi karena ada kesan dikucilkan di masa pemerintahan Megawati saat masih menjabat sebagai Menteri Polhukam. Lagi-lagi emotional politic berperan di sini dan mampu menggaet pemilih. Rakyat kali pertama memilih SBY bukan karena leadershipnya karena sebagian rakyat tidak mengetahui sebelumnya siapa SBY. Namun berkat emotional politic SBY mampu menyingkirkan pesaingnya.
Dalam konteks politik daerah pun emotional politic dilakukan, dimana para politisi di daerah mulai dari anggota Dewan, Bupati dan Walikota hingga Gubernur membangun hubungan emosional. Sebagai studi kasus di Banten. Kita bisa melihat emotional politic ini cukup dari gaya komunikasi beberapa kepala daerah melalui advertising. Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany misalnya, Anda coba akses di websitenya maka disitu ada beberapa foto Airin yang cukup emosional. Seperti foto Airin yang sedang mendengarkan veteran TNI, foto bersama pakai handpone dengan seorang ibu.
Hal serupa juga dilakukan oleh Irna Narulita, Bupati Pandeglang yang sukses merebut kursi nomor 1 di kota santri ini. Irna dalam kampanyenya lebih banyak menggunakan strategi emotional politic ketimbang lainnya. Jangan heran kalau kemudian ia lebih banyak dikerubuti pendukungnya terutama ibu-ibu. Tampak dalam kampanye Irna sedang berada di dapur milik salah seorang warga sambil jongkok. Bagi Anda yang mengerti politik pasti paham maksud yang sebenarnya, namun bagi kebanyakan warga tidak sampai menganalisa seperti apa yang akademisi atau para praktisi politik lakukan.
Penulis tidak sedang membahas apakah foto tersebut kepribadian personal yang bersangkutan atau sekadar rekayasa. Namun, dalam memasarkan produk apalagi branding personal maka hal itu harus dilakukan mengingat ada pesaing yang dipastikan melakukan hal serupa. Anda lihat Jokowi, branding personal dengan kemeja kotak-kotaknya cukup emosional ditambah gaya komunikasi Jokowi yang apa adanya dan mudah dipahami masyarakat.
Emotional politic yang penulis maksud bukanlah money, melainkan rasa dan cara politisi melakukan komunikasi politik. Gugahlah rasa para pemilih melalui ikatan emotional yang kuat. Dalam produk komersial rakyat adalah calon konsumen yang memiliki selera macam-macam. Cuma satu yang tidak bisa dibedakan yaitu urusan emosional.
Mengapa emotional politic parlu dilakukan?. Alasannya cukup sederhana yaitu karena yang dibidik adalah manusia, dimana mereka memiliki rasa dan keinginan serta kepribadian yang bermacam-macam karena memiliki latar belakang berbeda. Dalam teori Psikologi menurut Sigmund Freud, kepribadian manusia terdiri dari tiga struktur yaitu Id, Ego dan Superego. Id adalah keinginan untuk selalu merasa puas. Keinginan ini diatur oleh Ego agar tidak bertentangan dengan lingkungan sosial, sedangkan Superego sendiri adalah bagian moralitas. Pada bagian inilah emotional politic bermain sehingga timbal baliknya adalah emotional positive dari pemilih yang akan menguntungkan sang calon.
Karnoto
Brand Consultant
Unknown
01.46.00
Branding sesungguhnya berkaitan dengan pangsa pikiran dan emosi, bukan dengan pangsa pasar.
---Marc Gobe--
Mengawali tulisan kali ini saya ingin mengajak pembaca membuka memori otak kita tentang presiden Indonesia, Soekarno, Soeharto, Gusdur, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa dikenal dengan singkatan SBY serta Jokowi. Manfaatnya apa?. Ini ada kaitannya dengan tema tulisan. Ide awal menulis tema tentang Emotional Politic ini muncul ketika saya membaca buku karangan Marc Gobe, seorang ahli branding merek yang berjudul Emotional Branding.
Marc memang tidak membahas tentang politik tetapi khusus mengenai branding merek- merek terkenal di Amerika Serikat. Namun menurut penulis branding merek pada produk komersial tidak jauh berbeda dengan politik. Saya merasa yakin kalau kesimpulan ini tidak keliru 100 persen karena berdasarkan bukti empiris. Sebagai seorang jurnalis saya menemukan fakta-fakta yang membuktikan bahwa dalam konteks strategi marketing produk komersial 99,9 persen memiliki kesamaan dengan strategi marketing politik. Mulai dari Marketing Communication Consept, manajemen event, advertising hingga branding personal. Bahkan sampai hal teknis seperti direct selling, manajemen distribusi hingga manajemen risiko, nyaris tidak ada bedanya.
Istilahnya saja yang berbeda tetapi pada substansinya sama, yaitu bagaimana memengaruhi konsumen dalam hal ini pemilih agar menjadi konsumen (pemilih) loyal sehingga menguntungkan partai politik. Dengan menguasai pasar maka bisa lebih lama menjadi market leader sehingga menjadi partai pemenang sepanjang massa. Kita buka memori pertama yaitu Presiden Soekarno. Sang proklamator ini sangat menonjol pada sisi emotional branding. Cara dia berpidato, cara dia membangkitkan semangat rakyatnya, cara dia memperlakukan tamu negara dan hingga tukang masak istana pun Soekarno selalu melakukan emotional politic.Emotional politic inilah yang membuat Soekarno masih memiliki pendukung loyal hingga kini. Bukan saja pribadi Soekarno, tetapi barang-barang peninggalan Soekarno mulai dari cincin sampai isu soal harta karun Soekarno. Inilah pendekatan politik riil yang ternyata menjadi metode modern oleh sejumlah perusahaan ternama dan diadopsi oleh para politisi. Dalam produk komersial, sebuah merek yang ingin memiliki konsumen loyal dan bertahan lebih lama harus mengguggah perasaan konsumen.
Lihat gaya komunikasi yang dilakukan Sariwangi di layar televisi, sangat emotional.
Dalam iklannya, Sariwangi menggambarkan seorang suami yang kesel kepada istri karena pesan singkatnya yang menanyakan menu makan hari itu tetapi ternyata istri tidak tahu kalau sang suami mengirim pesan singkat. Apa yang terjadi, disitulah Sariwangi hadir seperti ingin menggambarkan bahwa kalau suami sedang kesel sajikan saja Sariwangi maka akan tersenyum kembali. Sederhana dan mengguggah emotional keluarga Indonesia.
Ini pula yang dilakukan Teh Botol Sosro. Komunikasi produk ini begitu sederhana dan menyentuh perasaan konsumen di Indonesia. Apapun Makannya, Minumnya The Botol Sosro, sebuah tagline dan gaya komunikasi yang cerdas karena mampu mengguggah emosional konsumen Indonesia. Wajar kalau produknya bertengger di papan atas. Inilah yang disebut Marc Gobe suatu merek menjadi hidup bagi masyarakat dan membentuk hubungan mendalam dan tahan lama. Kembali pada politik, emotional politic juga dilakukan Soeharto.
Bagaimana ia mampu mendoktrin azas Pancasila, bagaimana Soeharto membentuk opini publik bahwa dialah bapak pembangunan. Dan yang tidak kalah pentingnya bagaimana Soeharto membangun hubungan emotional yang cukup kuat dengan kalangan militer. Lagi-lagi semua itu adalah bagian dari emotional politic. Ini pula yang dilakukan Megawati Soekarnoputri yang ketika itu dijadikan simbol wong cilik. Emosi rakyat kecil disentuh sehingga mengguggah rasa dan kesetiaan rakyat terhadap Megawati.
Presiden SBY pun demikian. Emotional politic dia lakukan sehingga terpilih untuk kali keduanya menjadi presiden. Ia dikenal sosok yang memiliki paras gagah dan dalam posisi terzalimi karena ada kesan dikucilkan di masa pemerintahan Megawati saat masih menjabat sebagai Menteri Polhukam. Lagi-lagi emotional politic berperan di sini dan mampu menggaet pemilih. Rakyat kali pertama memilih SBY bukan karena leadershipnya karena sebagian rakyat tidak mengetahui sebelumnya siapa SBY. Namun berkat emotional politic SBY mampu menyingkirkan pesaingnya.
Dalam konteks politik daerah pun emotional politic dilakukan, dimana para politisi di daerah mulai dari anggota Dewan, Bupati dan Walikota hingga Gubernur membangun hubungan emosional. Sebagai studi kasus di Banten. Kita bisa melihat emotional politic ini cukup dari gaya komunikasi beberapa kepala daerah melalui advertising. Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi Diany misalnya, Anda coba akses di websitenya maka disitu ada beberapa foto Airin yang cukup emosional. Seperti foto Airin yang sedang mendengarkan veteran TNI, foto bersama pakai handpone dengan seorang ibu.
Hal serupa juga dilakukan oleh Irna Narulita, Bupati Pandeglang yang sukses merebut kursi nomor 1 di kota santri ini. Irna dalam kampanyenya lebih banyak menggunakan strategi emotional politic ketimbang lainnya. Jangan heran kalau kemudian ia lebih banyak dikerubuti pendukungnya terutama ibu-ibu. Tampak dalam kampanye Irna sedang berada di dapur milik salah seorang warga sambil jongkok. Bagi Anda yang mengerti politik pasti paham maksud yang sebenarnya, namun bagi kebanyakan warga tidak sampai menganalisa seperti apa yang akademisi atau para praktisi politik lakukan.
Penulis tidak sedang membahas apakah foto tersebut kepribadian personal yang bersangkutan atau sekadar rekayasa. Namun, dalam memasarkan produk apalagi branding personal maka hal itu harus dilakukan mengingat ada pesaing yang dipastikan melakukan hal serupa. Anda lihat Jokowi, branding personal dengan kemeja kotak-kotaknya cukup emosional ditambah gaya komunikasi Jokowi yang apa adanya dan mudah dipahami masyarakat.
Emotional politic yang penulis maksud bukanlah money, melainkan rasa dan cara politisi melakukan komunikasi politik. Gugahlah rasa para pemilih melalui ikatan emotional yang kuat. Dalam produk komersial rakyat adalah calon konsumen yang memiliki selera macam-macam. Cuma satu yang tidak bisa dibedakan yaitu urusan emosional.
Mengapa emotional politic parlu dilakukan?. Alasannya cukup sederhana yaitu karena yang dibidik adalah manusia, dimana mereka memiliki rasa dan keinginan serta kepribadian yang bermacam-macam karena memiliki latar belakang berbeda. Dalam teori Psikologi menurut Sigmund Freud, kepribadian manusia terdiri dari tiga struktur yaitu Id, Ego dan Superego. Id adalah keinginan untuk selalu merasa puas. Keinginan ini diatur oleh Ego agar tidak bertentangan dengan lingkungan sosial, sedangkan Superego sendiri adalah bagian moralitas. Pada bagian inilah emotional politic bermain sehingga timbal baliknya adalah emotional positive dari pemilih yang akan menguntungkan sang calon.
Karnoto
Brand Consultant
Rabu, 26 Oktober 2016
ARTIKEL, BRANDING
KPUD Propinsi Banten telah menabung gong pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten beberapa pekan lalu dan dua pasangan calon pun telah mengambil nomor urut. Pasangan Wahidin-Andika mendapatkan nomor urut satu dan Rano-Embay mendapat nomor urut dua. Saya tidak akan membicarakan perihal nomor urut karena sudah dibahas pada tulisan sebelumnya yang berjudul Antara Salam Dua Jari dengan Angka Satu Pasti.
Kali ini saya ingin mengulas strategi personal branding Calon Gubernur Banten, yaitu antara Rano dan Wahidin. Saya bahas personal branding Rano lebih dahulu, karena dia calon petahana. Penulis melihat, sejauh ini personal branding Rano tidak tampak jelas kendati dia adalah petahana. RK tidak seberani koleganya sesama kader PDIP di Jawa Tengah, yaitu Ganjar Pranowo yang ketika mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Tengah.
Saat itu Ganjar dibranding sebagai sosok calon yang anti korupsi dan komitmen untuk tidak akan melakukan hal itu saat terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah. Ganjar cukup berani dengan branding anti korupsi dan tidak membohongi. Personal branding Ganjar ketika itu diracik dan menghasilkan tagline Ora Korupsi, Ora Ngapusi (Tidak Korupsi, Tidak Membohongi). Sementara RK tidak cukup berani mengusung personal branding anti korupsi, kendati ia sebagai Gubernur Banten beberapa waktu lalu menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Boleh jadi itu bagian dari aktivasi personal brandingnya RK, namun sayang hal itu tidak diterjemahkan dalam aktivitas kampanye RK, baik melalui event, publikasi dan advertising. RK memilih menggunakan tagline Banten Bangkit, yang menurut penulis kurang menggigit.
Padahal, isu korupsi ini cukup seksi di Banten pasca maraknya pejabat di Banten yang tertangkap KPK. Kedua, Rano juga seperti mengurangi dominasi warna merah dalam aktivitasi branding yang dilakukan melalui advertising. Billboard RK menggunakan warna background putih. Prediksi penulis, dominasi merah di wilayah Banten Barat mungkin dinilai memiliki risiko tinggi mengingat Banten adalah daerah agamis, ditambah isu Agama saat ini cukup mendapatkan perhatian publik pasca statement Ahok soal surat Al Maidah:51, dimana PDIP sebagai pengusung utama menjadi icon Ahok. Mungkin karena alasan ini pula RK memilih Embay Mulya Syarief sebagai representasi pemilih agamis.
Walaupun Golkar juga menjadi pengusung Ahok, tapi publik lebih lekat bahwa Ahok-Jarot adalah jagoan PDIP. Ditambah lagi, pada Pilpres 2014 lalu, ada riak-riak yang cukup menyengat dengan salah satu kader PDIP Ribjka Ciptaniang, yang menulis buku "Aku Bangga Jadi Anak PKI". Buku Ribjka cukup kontroversial dikalangan umat muslim.
Sejauh ini penulis melihat strategi Personal Branding RK tidak menggigit, sehingga masih terlihat garing. Hanya simbol Salam Dua Jari yang saat ini lebih tenar ketimbang Personal Branding RK sendiri. Padahal efek Salam Dua Jari yang merupakan hasil jiplakan Jokowi saat kampanye Pilpres tidak menjamin ketertarikan warga secara emosional, seiring dengan kinerja Jokowi yang belum begitu memuaskan publik.
Entah, strategi Personal Branding apa yang sedang dilakukan tim sukses RK. Yang pasti penulis sampai sekarang baru melihat dua hal itu, yaitu mengurangi dominasi red colour pada aktivasi branding melalui adveritising dan soal angka Salam Dua Jari. Brand itu penting, karena dari brand inilah segala aktivasi kampanye bisa berjalan dengan baik.
Brand sebagaimana dikatakan sejumlah ahli adalah janji yang disampaikan secara spesifik dan konsisten kepada penjual (Kotler, Armstrong). Brand juga bisa diterjemahkan sebagai ide, kata, desain grafis dan suara yang mensimbolisasikan produk, jasa dan perusahaan yang memproduksi produk dan jasa tersebut (Janita).
Lalu bagaimana Personal Branding Wahidin?. Sebelas dua belas dengan RK. Wahidin pun sejauh ini tidak begitu tegas mengkristalkan Personal Brandingnya. Padahal WH memiliki highlight sebagai mantan Walikota Tangerang yang sukses melakukan reformasi birokrasi. Sayang, highlight ini tidak masif dikampanyekan melalui konten-konten aktivitasi brandingnya WH.
Penulis hanya melihat konten Mari Bersama Membangun Banten, padahal slogan ini kental seperti sudah menjadi hak milik keluarga Andika. Personal Branding WH justru lebih mengigit dan heroik saat berpasangan dengan Irna Narulita melawan Atut-RK. Ketika itu WH mengusung tagline perubahan'Tagline ini mirip dengan yang pernah dibawa Barack Obama pada Pilpres pertamanya Change, We Can.
Karena dua-duanya belum terlihat Personal Branding yang menggigit maka pointnya masih 0-0, Mungkin ini PR para tim sukses masing-masing, sebab bekerja dalam aktivitas kampanye akan ngacak kalau Personal Branding sang calon belum dicreat dengan baik. Konten komunikasi politik tidak fokus, begitu pula dalam aktivasi branding melalui iklan, baik indoor maupun out door juga sumir karena terkesan sesuka-sukaya, stylish calon juga belum ada karakternya.Masih ada waktu untuk segera mengatur personal branding sang calon.
Semoga ke depan publik makin melihat secara jelas diantara kedua tokoh ini, apalagi ini Head to Head. Biasanya kalau Head to Head perbedaanya cukup mencolok dan terlihat kasat mata, namun kali ini tidak begitu terlihat.
Penulis,
Karnoto
Unknown
17.29.00
Kemenangan calon kepala daerah salah satunya ditentukan oleh kekuatan Personal Branding Calon
---Hanta Yuda---
KPUD Propinsi Banten telah menabung gong pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten beberapa pekan lalu dan dua pasangan calon pun telah mengambil nomor urut. Pasangan Wahidin-Andika mendapatkan nomor urut satu dan Rano-Embay mendapat nomor urut dua. Saya tidak akan membicarakan perihal nomor urut karena sudah dibahas pada tulisan sebelumnya yang berjudul Antara Salam Dua Jari dengan Angka Satu Pasti.
Kali ini saya ingin mengulas strategi personal branding Calon Gubernur Banten, yaitu antara Rano dan Wahidin. Saya bahas personal branding Rano lebih dahulu, karena dia calon petahana. Penulis melihat, sejauh ini personal branding Rano tidak tampak jelas kendati dia adalah petahana. RK tidak seberani koleganya sesama kader PDIP di Jawa Tengah, yaitu Ganjar Pranowo yang ketika mencalonkan diri menjadi Gubernur Jawa Tengah.
Saat itu Ganjar dibranding sebagai sosok calon yang anti korupsi dan komitmen untuk tidak akan melakukan hal itu saat terpilih menjadi Gubernur Jawa Tengah. Ganjar cukup berani dengan branding anti korupsi dan tidak membohongi. Personal branding Ganjar ketika itu diracik dan menghasilkan tagline Ora Korupsi, Ora Ngapusi (Tidak Korupsi, Tidak Membohongi). Sementara RK tidak cukup berani mengusung personal branding anti korupsi, kendati ia sebagai Gubernur Banten beberapa waktu lalu menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Boleh jadi itu bagian dari aktivasi personal brandingnya RK, namun sayang hal itu tidak diterjemahkan dalam aktivitas kampanye RK, baik melalui event, publikasi dan advertising. RK memilih menggunakan tagline Banten Bangkit, yang menurut penulis kurang menggigit.
Padahal, isu korupsi ini cukup seksi di Banten pasca maraknya pejabat di Banten yang tertangkap KPK. Kedua, Rano juga seperti mengurangi dominasi warna merah dalam aktivitasi branding yang dilakukan melalui advertising. Billboard RK menggunakan warna background putih. Prediksi penulis, dominasi merah di wilayah Banten Barat mungkin dinilai memiliki risiko tinggi mengingat Banten adalah daerah agamis, ditambah isu Agama saat ini cukup mendapatkan perhatian publik pasca statement Ahok soal surat Al Maidah:51, dimana PDIP sebagai pengusung utama menjadi icon Ahok. Mungkin karena alasan ini pula RK memilih Embay Mulya Syarief sebagai representasi pemilih agamis.
Walaupun Golkar juga menjadi pengusung Ahok, tapi publik lebih lekat bahwa Ahok-Jarot adalah jagoan PDIP. Ditambah lagi, pada Pilpres 2014 lalu, ada riak-riak yang cukup menyengat dengan salah satu kader PDIP Ribjka Ciptaniang, yang menulis buku "Aku Bangga Jadi Anak PKI". Buku Ribjka cukup kontroversial dikalangan umat muslim.
Sejauh ini penulis melihat strategi Personal Branding RK tidak menggigit, sehingga masih terlihat garing. Hanya simbol Salam Dua Jari yang saat ini lebih tenar ketimbang Personal Branding RK sendiri. Padahal efek Salam Dua Jari yang merupakan hasil jiplakan Jokowi saat kampanye Pilpres tidak menjamin ketertarikan warga secara emosional, seiring dengan kinerja Jokowi yang belum begitu memuaskan publik.
Entah, strategi Personal Branding apa yang sedang dilakukan tim sukses RK. Yang pasti penulis sampai sekarang baru melihat dua hal itu, yaitu mengurangi dominasi red colour pada aktivasi branding melalui adveritising dan soal angka Salam Dua Jari. Brand itu penting, karena dari brand inilah segala aktivasi kampanye bisa berjalan dengan baik.
Brand sebagaimana dikatakan sejumlah ahli adalah janji yang disampaikan secara spesifik dan konsisten kepada penjual (Kotler, Armstrong). Brand juga bisa diterjemahkan sebagai ide, kata, desain grafis dan suara yang mensimbolisasikan produk, jasa dan perusahaan yang memproduksi produk dan jasa tersebut (Janita).
Lalu bagaimana Personal Branding Wahidin?. Sebelas dua belas dengan RK. Wahidin pun sejauh ini tidak begitu tegas mengkristalkan Personal Brandingnya. Padahal WH memiliki highlight sebagai mantan Walikota Tangerang yang sukses melakukan reformasi birokrasi. Sayang, highlight ini tidak masif dikampanyekan melalui konten-konten aktivitasi brandingnya WH.
Penulis hanya melihat konten Mari Bersama Membangun Banten, padahal slogan ini kental seperti sudah menjadi hak milik keluarga Andika. Personal Branding WH justru lebih mengigit dan heroik saat berpasangan dengan Irna Narulita melawan Atut-RK. Ketika itu WH mengusung tagline perubahan'Tagline ini mirip dengan yang pernah dibawa Barack Obama pada Pilpres pertamanya Change, We Can.
Karena dua-duanya belum terlihat Personal Branding yang menggigit maka pointnya masih 0-0, Mungkin ini PR para tim sukses masing-masing, sebab bekerja dalam aktivitas kampanye akan ngacak kalau Personal Branding sang calon belum dicreat dengan baik. Konten komunikasi politik tidak fokus, begitu pula dalam aktivasi branding melalui iklan, baik indoor maupun out door juga sumir karena terkesan sesuka-sukaya, stylish calon juga belum ada karakternya.Masih ada waktu untuk segera mengatur personal branding sang calon.
Semoga ke depan publik makin melihat secara jelas diantara kedua tokoh ini, apalagi ini Head to Head. Biasanya kalau Head to Head perbedaanya cukup mencolok dan terlihat kasat mata, namun kali ini tidak begitu terlihat.
Penulis,
Karnoto
ARTIKEL, BRANDING
Beberapa hari lalu dua pasangan calon Gubernur Banten telah mengambil nomor urut, hasilnya pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy mendapatkan nomor satu sedangkan Rano Karno-Embay Mulya Syarief mendapatkan nomor urut dua. Usai pengambilan nomor, masing-masing calon plus pendukungnya ramai-ramai upload nomor urut yang diperoleh tersebut. RK-Embay mendapatkan nomor urut dua langsung mengadopsi "Salam Dua Jari".
Salam ini pernah popular saat dipakai Jokowi-JK ketika kampanye dua tahun lalu pada Pilpres 2014. Sementara itu, WH-Andika pun tidak mau ketinggalan dengan lawannya, mereka pun mengkonfirmasikan kepada khalayak bahwa angka satu sebagai simbol kepastian. Teori Marketing Communication Advertising, yang sebelumnya hanya dipakai untuk produk-produk komersial kini menjadi trend.
Trend Marcomm Advertising ini dipouplarkan ketika Barack Obama mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat beberapa tahun silam. Lalu mulai diadopsi pada Piplres ketika SBY maju sebagai calon Presiden RI ketika itu. Sejak saat itu, teori perihal personal branding, tagline menjadi begitu popular dijagad politik tanah air.
Pada periode pertama, Obama memakai tagline Change, We Can, lalu pada pencalonan kali keduanya ia ubah menjadi Foward atau dalam bahasa kita Lanjutkan, tagline ini pula yang kemudian dicontek habis oleh SBY pada Pilpres periode kedua saat ia mencalonkan diri. Dan sampai sekarang gaung Personal Branding masih menjadi perhitungan para kandidat. Kembali ke Pilkada Banten, suhu Pilkada di Banten yang akan dilakukan pencoblosannya pada Februari 2017 mendatang memang tidak sepanas Pilkada DKI.
Pilkada DKI tidak cuma panas, tapi juga mengaduk-aduk perasaan, emosi masyarakat DKI, khususnya pasca petahana Basuki Cahaya Purnama atau Ahok Zhong Wanxue (nama Tionghoa Ahok) melemparkan bola panas perihal Surat Al Maidah:51. Sampai-sampai Din Samsudin mengatakan bahwa Pilkada DKI kali ini cukup ekstrim.
Sementara di Pilkada di Banten relatif damai, meski tetap ada riak-riak tetapi tidak sepanas di DKI. Padahal Pilkada kali ini Head to Head, dan biasanya kalau Head to Head suasananya cukup panas, karena masyarakat dihadapkan pada dua pilihan secara jelas. Artinya kalau tidak memiliki WH-Andika, berarti pilih RK-Embay. Hawa panasnya masih kalah ketka Ratu Atut Chosiyah melawan Zulkieflimansyah-Marisahaque.
Saya tidak akan membahas suasana Pilkadanya, tetapi ingin share perihal nomor urut dua pasangan ini. WH-Andika merasa diuntungkan dengan nomor urut satu, selain dinilai angka kepastian, angka satu juga dinilai memudahkan pemilih. Sementara itu, RK-Embay juga merasa diuntungkan dengan nomor urut dua karena tidak perlu repot-repot memikirkan cara mengkampanyekan.
Berapapun nomor urut mereka, peran tim sukses menjadi urgen dan kreativitasnya menjadi pertaruhan. Sebab dari sisi kekuatan keduanya sama-sama memiliki peluang menang. Pertanyaanya, apakah RK-Embay dengan salam dua jarinya mampu mensukseskan mereka atau gagal, Sebab menjiplak stylish kampanye tidak selalu sukses, seperti yang pernah dialami Rieke Dyah Pitaloka saat mengadopsi kemeja kotak-kotak pada Pilkada Jawa Barat. Rieke yang berpasangan dengan Teten Masduki KO dengan Ahmad Heryawan-Dedy Mizar dengan simbol kancing merah di dada.
Mungkin karena alasan ini pula RK tidak menggunakan kemeja kotak-kotak, Entahlah, karena masalah itu belum ada yang menanyakan dan RK sendiri belum menyampaikan perihal itu. Pengalaman pahit Rieke di Jawa Barat sepertinya membuat RK berpikir ulang menggunakan kemeja kotak-kotak. Apalagi waktunya sudah terpaut cukup lama, sementara Rieke yang ketika itu masih anget-angetnya saja kalah dengan kancing merah milik Heryawan.
Meski tidak atau belum menjiplak kemeja kotak-kotak, pada akhirnya RK tetap menjiplak campaign Jokowi dengan Salam Dua Jari. Nomor urut ini memang bukan dari personal branding mereka, tapi tetap menjadi bagian aktivity branding. Angka tersebut hanya perihal artikulasi agar mudah cerna masyarakat.
Sementara itu, WH-Andika sepertinya tidak menghiraukan soal angka, maka mereka pun tidak memiliki artikulasi khusus tentang angka satu, Pasangan ini hanya mengatakan bahwa angka satu adalah angka kepastian, mereka lebih fokus terjun dari satu kampung ke kampung lain. Maklum, WH adalah calon gubernur yang sudah puluhan tahun mengenal perilaku pemilih. Sebab dia memulai karir dari lurah, sehingga paham betul psikografis pemilih di Banten, khususnya Tangerang.
Siapa diantara dua pasangan ini yang terpilih, kita sama-sama menunggu hasil pemilihan. Waktu masih lumayan panjang, strategi pun masih punya ruang untuk diadu. Keterlibatan Tim Sukses dalam mensukseskan calon mereka menjadi pembuktikan siapa diantara mereka yang memiliki strategi paling jitu meyakinkan pemilih, Dan yang pasti kemenangan calon bukan hanya pada urusan angka, tapi banyak variabel yang menentukan, diantaranya sejauhmana kemampuan tim sukses mengkonfirmasi Personal Branding para calon kepada pemilih. Personal Branding ini yang menjadi acuan komunikasi politik mereka, iklan mereka, konten mereka dan stylish mereka. Selamat Memilih!
Penulis:
KARNOTO
Konsultan Brand di Maharti
www.mahartibrand.com
Unknown
09.31.00
Brand Cemerlang itu mengerti keinginan audience utamanya.
--Amalia E. Maulana--
Beberapa hari lalu dua pasangan calon Gubernur Banten telah mengambil nomor urut, hasilnya pasangan Wahidin Halim-Andika Hazrumy mendapatkan nomor satu sedangkan Rano Karno-Embay Mulya Syarief mendapatkan nomor urut dua. Usai pengambilan nomor, masing-masing calon plus pendukungnya ramai-ramai upload nomor urut yang diperoleh tersebut. RK-Embay mendapatkan nomor urut dua langsung mengadopsi "Salam Dua Jari".
Salam ini pernah popular saat dipakai Jokowi-JK ketika kampanye dua tahun lalu pada Pilpres 2014. Sementara itu, WH-Andika pun tidak mau ketinggalan dengan lawannya, mereka pun mengkonfirmasikan kepada khalayak bahwa angka satu sebagai simbol kepastian. Teori Marketing Communication Advertising, yang sebelumnya hanya dipakai untuk produk-produk komersial kini menjadi trend.
Trend Marcomm Advertising ini dipouplarkan ketika Barack Obama mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat beberapa tahun silam. Lalu mulai diadopsi pada Piplres ketika SBY maju sebagai calon Presiden RI ketika itu. Sejak saat itu, teori perihal personal branding, tagline menjadi begitu popular dijagad politik tanah air.
Pada periode pertama, Obama memakai tagline Change, We Can, lalu pada pencalonan kali keduanya ia ubah menjadi Foward atau dalam bahasa kita Lanjutkan, tagline ini pula yang kemudian dicontek habis oleh SBY pada Pilpres periode kedua saat ia mencalonkan diri. Dan sampai sekarang gaung Personal Branding masih menjadi perhitungan para kandidat. Kembali ke Pilkada Banten, suhu Pilkada di Banten yang akan dilakukan pencoblosannya pada Februari 2017 mendatang memang tidak sepanas Pilkada DKI.
Pilkada DKI tidak cuma panas, tapi juga mengaduk-aduk perasaan, emosi masyarakat DKI, khususnya pasca petahana Basuki Cahaya Purnama atau Ahok Zhong Wanxue (nama Tionghoa Ahok) melemparkan bola panas perihal Surat Al Maidah:51. Sampai-sampai Din Samsudin mengatakan bahwa Pilkada DKI kali ini cukup ekstrim.
Sementara di Pilkada di Banten relatif damai, meski tetap ada riak-riak tetapi tidak sepanas di DKI. Padahal Pilkada kali ini Head to Head, dan biasanya kalau Head to Head suasananya cukup panas, karena masyarakat dihadapkan pada dua pilihan secara jelas. Artinya kalau tidak memiliki WH-Andika, berarti pilih RK-Embay. Hawa panasnya masih kalah ketka Ratu Atut Chosiyah melawan Zulkieflimansyah-Marisahaque.
Saya tidak akan membahas suasana Pilkadanya, tetapi ingin share perihal nomor urut dua pasangan ini. WH-Andika merasa diuntungkan dengan nomor urut satu, selain dinilai angka kepastian, angka satu juga dinilai memudahkan pemilih. Sementara itu, RK-Embay juga merasa diuntungkan dengan nomor urut dua karena tidak perlu repot-repot memikirkan cara mengkampanyekan.
Berapapun nomor urut mereka, peran tim sukses menjadi urgen dan kreativitasnya menjadi pertaruhan. Sebab dari sisi kekuatan keduanya sama-sama memiliki peluang menang. Pertanyaanya, apakah RK-Embay dengan salam dua jarinya mampu mensukseskan mereka atau gagal, Sebab menjiplak stylish kampanye tidak selalu sukses, seperti yang pernah dialami Rieke Dyah Pitaloka saat mengadopsi kemeja kotak-kotak pada Pilkada Jawa Barat. Rieke yang berpasangan dengan Teten Masduki KO dengan Ahmad Heryawan-Dedy Mizar dengan simbol kancing merah di dada.
Mungkin karena alasan ini pula RK tidak menggunakan kemeja kotak-kotak, Entahlah, karena masalah itu belum ada yang menanyakan dan RK sendiri belum menyampaikan perihal itu. Pengalaman pahit Rieke di Jawa Barat sepertinya membuat RK berpikir ulang menggunakan kemeja kotak-kotak. Apalagi waktunya sudah terpaut cukup lama, sementara Rieke yang ketika itu masih anget-angetnya saja kalah dengan kancing merah milik Heryawan.
Meski tidak atau belum menjiplak kemeja kotak-kotak, pada akhirnya RK tetap menjiplak campaign Jokowi dengan Salam Dua Jari. Nomor urut ini memang bukan dari personal branding mereka, tapi tetap menjadi bagian aktivity branding. Angka tersebut hanya perihal artikulasi agar mudah cerna masyarakat.
Sementara itu, WH-Andika sepertinya tidak menghiraukan soal angka, maka mereka pun tidak memiliki artikulasi khusus tentang angka satu, Pasangan ini hanya mengatakan bahwa angka satu adalah angka kepastian, mereka lebih fokus terjun dari satu kampung ke kampung lain. Maklum, WH adalah calon gubernur yang sudah puluhan tahun mengenal perilaku pemilih. Sebab dia memulai karir dari lurah, sehingga paham betul psikografis pemilih di Banten, khususnya Tangerang.
Siapa diantara dua pasangan ini yang terpilih, kita sama-sama menunggu hasil pemilihan. Waktu masih lumayan panjang, strategi pun masih punya ruang untuk diadu. Keterlibatan Tim Sukses dalam mensukseskan calon mereka menjadi pembuktikan siapa diantara mereka yang memiliki strategi paling jitu meyakinkan pemilih, Dan yang pasti kemenangan calon bukan hanya pada urusan angka, tapi banyak variabel yang menentukan, diantaranya sejauhmana kemampuan tim sukses mengkonfirmasi Personal Branding para calon kepada pemilih. Personal Branding ini yang menjadi acuan komunikasi politik mereka, iklan mereka, konten mereka dan stylish mereka. Selamat Memilih!
Penulis:
KARNOTO
Konsultan Brand di Maharti
www.mahartibrand.com
Senin, 26 September 2016
ARTIKEL
Unknown
17.15.00
Mata Anda sering “dipaksa” untuk menoleh ke sebuah billboard. Tanpa sadar, mata seperti ditarik untuk melihat gambar yang unik dan tak terduga.
(Rakhmat Supriyono, Desain Komunikasi Visual)
Dunia periklanan saat ini makin atraktif. Sejak kita bangun tidur, mandi, di kendaraan umum, di jalan tol, di tempat kerja, layar televisi termasuk tiang listrik, menjadi ”korban” atraktif periklanan. Tulisan kali ini saya tidak akan membahas tentang urgensi iklan atau manajemen periklanan.
Namun saya ingin menyampaikan bahwa setiap produk memiliki identitas. Identitas atau merek bukan hanya sekadar membedakan dengan pesaing, tapi identitas menjadi represntase sebuah produk.
Lihat identitas A Mild yang iklannya kreatif. Atau sampoerna hijau yang sukanya rame-rame. Semua itu identitas yang penting dalam sebuah marketing. Nah, untuk menjual diri pun kita harus memiliki identitas yang kuat. Persaingan rokok begitu hebat, sehingga membutuhkan sebuah identitas yang berkarakter.
Identitas atau merek secara definisi tidak perlu saya jelaskan lagi, karena sudah ada pada tulisan terdahulu. Pentingnya sebuah merek hingga urusan ini membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Ini yang dialami pada merek larutan cap kaki tiga, dimana dua perusahaan saling klaim sebagai pihak yang paling berhak untuk menggunakan merek tersebut.
Perang klarifikasi di media pun mencuat, seperti yang pernah dimuat di Kompas 12 Agustus, yang memuat sanggahan PT Sinde Budi Sentosa atas klaim penggunaan merek cap kaki tiga dengan karakter badak bercula oleh PT Wen Ken Drug asal Singapura.
Begitu mahalnya identitas sebuah produk. Diri kita pun harus memiliki identitas agar menjadi mahal harganya. Identitas diri kita itu bisa berupa kaya gagasan, ahli motivator, penulis, ahli pemasaran, ahli komunikasi atau pun politisi.
Philip Kotler dalam bukunya Manajemen Pemasaran memberikan enam kriteria utama perihal merek. Keenam kriteria itu yaitu dapat diingat, berarti, dan dapat disukai. Ketiga kriteria ini disebut dengan pembangunan merek, sedangkan tiga kriteria lainnya yaitu dapat ditransfer, dapat disesuaikan dan dapat dilindungi merupakan kriteria defensif.
Anda ingat Mario Teguh dengan Golden Ways yang sering tayang di Metrotv?, atau Anda ingat Kuis Siapa Dia?, terakhir anda ingat tagline Hidup Adalah Perbuatannya Soetrisno Bachir? Semua itu adalah identitas personal yang mereka bangun dan secara tidak sadar merasuki dalam pikiran kita. Identitas atau merek menurut Philip Kotler, merupakan aset tak berwujud yang berharga dan harus dikelola dengan seksama. Dari apa yang dikatakan Philip, jelas bahwa identitas personal kita merupakan aset yang tak berwujud tapi mahal harganya.
Sekali lagi, penulis ingin menyampaikan bahwa identias dalam konteks personal bisa berupa reputasi, gagasan atau ide. Nah, kalau reputasi yang merupakan identitas personal kita hancur di mata publik maka tamatlah riwayat diri kita. Kalau dalam konteks produk, andaikan produk kita ternyata tidak halal dan bercampur lemak babi maka sebagian umat muslim tidak akan membeli dan membenci yang akan berujung pada merosotnya nilai penjualan bahkan bangkrut.
ARTIKEL
Shinta-Jojo, Udin Sedunia, Ustd Maulana, mereka adalah contoh kecil orang yang sukses dengan bantuan dunia cyber. Melalui Youtube, mereka kini menjadi terkenal dan berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan karena sering tayang di sejumlah media.
Anda juga tentu ingat gerakan uang koin untuk Prita Mulyasari, seorang ibu yang harus berhadapan dengan Rumah Sakit Omni Internasional. Satu lagi contoh kasus dahsyatnya dunia cyber yaitu gerakan reformasi di Mesir yang diawali secara masif melalui jejaring sosial bernama facebook.
Inilah yang menurut Rhenal Kasali disebut generasi c (Gen-C). Ia lahir dengan memegang mouse di tangan kanannya. Suku mereka bukanlah Aceh, Manado, Jawa, Papua ataupun Ambon, melainkan mereka yang ditemui di dunia maya. Suku itu bisa game, science, facebook, twitter. (Cracking Zone, Rhenal Kasali). Bagi Anda yang sudah menjelajahi cyber dan aktif, tentu sudah menjadi Gen-C yang pasti memiliki kepentingan dan pengalaman sendiri.
Saya tidak akan membicarakan dunia cyber secara teknis atau programernya, tapi ingin fokus sesuai judul yang saya tulis yaitu menjual diri di dunia cyber.
Alasan yang paling kuat kenapa saya menulis tema ini, karena memiliki pengalaman pribadi dan membuat saya heran, penasaran dan sedikit kaget. Ceritanya begini, sebagai jurnalis tentu saya aktif di situs jejaring sosial. Bukan karena iseng-iseng atau gagah-gagahan, tapi bagi saya facebook bagian dari sarana yang mesti dimanfaatkan dengan optimal. Terserah, apakah untuk hiburan, lepas kangen dengan teman lama, bisnis ataupun pekerjaan. Bebas kok, karena karakter cyber menurutku yaitu dunia bebas tanpa batas.
Suatu ketika saya membutuhkan foto seseorang untuk dipasang dikoran. Nah, karena foto lama menurutku kurang bagus maka saya mengambil foto orang tersebut di facebooknya. Bukan tanpa sebab saya mengambil fotonya di facebook. Orang ini sudah saya anggap dekat dan sahabat akrab, sehingga saya memberanikan diri mengambil foto terbaiknya di facebook. Belakangan orang ini enggan dihubungi. Setiap di telepon tidak dijawab, di SMS pun tidak dibalas. Saya baru tahu alasannya setelah dia mengungkapkan kekecewaanya atas tindakan saya yang mengambil foto tanpa izin terlebih dahulu.
Oooh.... saya pun minta maaf tapi sepertinya orang ini terlanjur kecewa hingga kini enggan berteman dengan saya. Dalam batin saya bertanya sendiri, kalau kita sudah mengupload foto, dokumen pribadi ataupun tulisan ke dunia cyber berarti konsekuensinya kita harus siap ketika ada seseorang memanfaatkan itu semua untuk kepentingan. ”Ini kan dunia maya, semua orang bebas mengakses dan mengupload. Kalau tidak ingin diunduh yang bikin kunci di facebooknya atau mengasingkan diri sekalian di dunia maya.
Tapi sudah semua telah terjadi dan jadi pengalaman berharaga untuku,” gumam saya dalam hati.
Satu lagi cerita masih berkaitan dengan dunia cyber. Suatu pagi saya dikagetkan dengan isi pesan di inbox facebook dari seorang wanita. Isinya, wanita ini minta pertanggungjawaban atas perbuatan dari seseorang kawan saya bekerja di salah satu instansi pemerintah. Wanita ini pun menceritakan hubungannya dengan kawan saya yang aktif di salah satu partai politik. Jujur saya bingung dan tegang karena ini bukan curhatan biasa, tapi serius banget dan sempat membuat sport jantung saya.
Beberapa hari setelah itu, saya pun coba mengkonfirmasi ke kawan saya melalui facebook. Nah, pengakuan kawan saya itu laptopnya hilang dan ada wanita yang memanfaatkan dengan mengaku telah dinodai. ”Kebetulan saat itu facebook saya masih aktif. Nah, nama-nama pertemanan saya dimanfaatkan sama wanita ini,” kata kawan saya melalui facebook. Benar atau tidak, saya tidak mau cari tahu karena ini menyangkut urusan rumah tangga seseorang.
Dua kisah yang pernah saya alami itu, pasti masih kalah serunya dengan pengalaman Anda?. Apapun kisah Anda di dunia cyber merupakan warna dan membutuhkan kedewasaan dan kesadaran kita dalam memanfaatkan dunia cyber. Andaikan mau menjual ”diri” di dunia maya maka mesti hati-hati. Sekali anda jual ”diri” Anda maka semua orang bisa mengakses dokumen anda, kecuali ada kunci khusus yang tidak semua orang bisa buka.
Dampak negatif atau positif nanti tergantung beberapa variabel. Banyak orang sukses dan tenar hanya gara-gara dunia cyber, karena dunia cyber hanyalah sarana tergantung mau diapakan sarana tersebut. Apakah untuk menjual ”diri”, promosi bisnis, menambah wawasan dan ilmu atau menghancurkan generasi dengan mengupload gambar dan foto tidak senonoh, semua terserah keinginan Anda.
Tapi ingat semua memiliki konsekuensi masing-masing. Anda mengupload yang melanggar aturan maka hukum siap menanti. Bagi Anda yang mengupload promosi maka kesuksesan telah menanti. Di ujung tulisan ini saya ingin mengutip nasehat Rhenald Kasali. Dosen Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini mengatakan, orang bodoh sering beranggapan musuh terbesarnya berada di luar sehingga sering mereka membangun benteng tinggi untuk menghalau. Padahal sebaliknya musuh yang sesungguhnya ada di diri sendiri.
---------------------------------------
Penulis: Karnoto
CEO Maharti Group
Unknown
17.10.00
Indonesia baru dikelilingi oleh komunitas jejaring sosial dan jutaan pemuda GEN-C yang mengubah wajah dunia. (Prof.Rhenald Kasali,Ph.D).
Shinta-Jojo, Udin Sedunia, Ustd Maulana, mereka adalah contoh kecil orang yang sukses dengan bantuan dunia cyber. Melalui Youtube, mereka kini menjadi terkenal dan berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan karena sering tayang di sejumlah media.
Anda juga tentu ingat gerakan uang koin untuk Prita Mulyasari, seorang ibu yang harus berhadapan dengan Rumah Sakit Omni Internasional. Satu lagi contoh kasus dahsyatnya dunia cyber yaitu gerakan reformasi di Mesir yang diawali secara masif melalui jejaring sosial bernama facebook.
Inilah yang menurut Rhenal Kasali disebut generasi c (Gen-C). Ia lahir dengan memegang mouse di tangan kanannya. Suku mereka bukanlah Aceh, Manado, Jawa, Papua ataupun Ambon, melainkan mereka yang ditemui di dunia maya. Suku itu bisa game, science, facebook, twitter. (Cracking Zone, Rhenal Kasali). Bagi Anda yang sudah menjelajahi cyber dan aktif, tentu sudah menjadi Gen-C yang pasti memiliki kepentingan dan pengalaman sendiri.
Saya tidak akan membicarakan dunia cyber secara teknis atau programernya, tapi ingin fokus sesuai judul yang saya tulis yaitu menjual diri di dunia cyber.
Alasan yang paling kuat kenapa saya menulis tema ini, karena memiliki pengalaman pribadi dan membuat saya heran, penasaran dan sedikit kaget. Ceritanya begini, sebagai jurnalis tentu saya aktif di situs jejaring sosial. Bukan karena iseng-iseng atau gagah-gagahan, tapi bagi saya facebook bagian dari sarana yang mesti dimanfaatkan dengan optimal. Terserah, apakah untuk hiburan, lepas kangen dengan teman lama, bisnis ataupun pekerjaan. Bebas kok, karena karakter cyber menurutku yaitu dunia bebas tanpa batas.
Suatu ketika saya membutuhkan foto seseorang untuk dipasang dikoran. Nah, karena foto lama menurutku kurang bagus maka saya mengambil foto orang tersebut di facebooknya. Bukan tanpa sebab saya mengambil fotonya di facebook. Orang ini sudah saya anggap dekat dan sahabat akrab, sehingga saya memberanikan diri mengambil foto terbaiknya di facebook. Belakangan orang ini enggan dihubungi. Setiap di telepon tidak dijawab, di SMS pun tidak dibalas. Saya baru tahu alasannya setelah dia mengungkapkan kekecewaanya atas tindakan saya yang mengambil foto tanpa izin terlebih dahulu.
Oooh.... saya pun minta maaf tapi sepertinya orang ini terlanjur kecewa hingga kini enggan berteman dengan saya. Dalam batin saya bertanya sendiri, kalau kita sudah mengupload foto, dokumen pribadi ataupun tulisan ke dunia cyber berarti konsekuensinya kita harus siap ketika ada seseorang memanfaatkan itu semua untuk kepentingan. ”Ini kan dunia maya, semua orang bebas mengakses dan mengupload. Kalau tidak ingin diunduh yang bikin kunci di facebooknya atau mengasingkan diri sekalian di dunia maya.
Tapi sudah semua telah terjadi dan jadi pengalaman berharaga untuku,” gumam saya dalam hati.
Satu lagi cerita masih berkaitan dengan dunia cyber. Suatu pagi saya dikagetkan dengan isi pesan di inbox facebook dari seorang wanita. Isinya, wanita ini minta pertanggungjawaban atas perbuatan dari seseorang kawan saya bekerja di salah satu instansi pemerintah. Wanita ini pun menceritakan hubungannya dengan kawan saya yang aktif di salah satu partai politik. Jujur saya bingung dan tegang karena ini bukan curhatan biasa, tapi serius banget dan sempat membuat sport jantung saya.
Beberapa hari setelah itu, saya pun coba mengkonfirmasi ke kawan saya melalui facebook. Nah, pengakuan kawan saya itu laptopnya hilang dan ada wanita yang memanfaatkan dengan mengaku telah dinodai. ”Kebetulan saat itu facebook saya masih aktif. Nah, nama-nama pertemanan saya dimanfaatkan sama wanita ini,” kata kawan saya melalui facebook. Benar atau tidak, saya tidak mau cari tahu karena ini menyangkut urusan rumah tangga seseorang.
Dua kisah yang pernah saya alami itu, pasti masih kalah serunya dengan pengalaman Anda?. Apapun kisah Anda di dunia cyber merupakan warna dan membutuhkan kedewasaan dan kesadaran kita dalam memanfaatkan dunia cyber. Andaikan mau menjual ”diri” di dunia maya maka mesti hati-hati. Sekali anda jual ”diri” Anda maka semua orang bisa mengakses dokumen anda, kecuali ada kunci khusus yang tidak semua orang bisa buka.
Dampak negatif atau positif nanti tergantung beberapa variabel. Banyak orang sukses dan tenar hanya gara-gara dunia cyber, karena dunia cyber hanyalah sarana tergantung mau diapakan sarana tersebut. Apakah untuk menjual ”diri”, promosi bisnis, menambah wawasan dan ilmu atau menghancurkan generasi dengan mengupload gambar dan foto tidak senonoh, semua terserah keinginan Anda.
Tapi ingat semua memiliki konsekuensi masing-masing. Anda mengupload yang melanggar aturan maka hukum siap menanti. Bagi Anda yang mengupload promosi maka kesuksesan telah menanti. Di ujung tulisan ini saya ingin mengutip nasehat Rhenald Kasali. Dosen Universitas Indonesia (UI) Jakarta ini mengatakan, orang bodoh sering beranggapan musuh terbesarnya berada di luar sehingga sering mereka membangun benteng tinggi untuk menghalau. Padahal sebaliknya musuh yang sesungguhnya ada di diri sendiri.
---------------------------------------
Penulis: Karnoto
CEO Maharti Group
ARTIKEL
Unknown
17.07.00
Merek adalah label yang tepat dan layak untuk menggambarkan secara utuh objek yang dipasarkan. Dan sebagian besar bentuk komunikasi pemasaran terjadi di tingkat merek. (Terence A Shimp). Jujur, nama Rumah Makan Gardoe Welitan (GW) dengan tagline emang beda! Saya buat beberapa bulan sebelum belajar tentang teori ilmu marketing komunikasi dan periklanan.
Ketika itu saya belum kenal teori branding, marketing mix, promosi mix, advertising apalagi ekuitas merek. Saya juga belum kenal (baca maksudnya) pemikiran tokoh-tokoh marketing seperti Philip Kotler (pengarang buku pemasaran terkemuka di dunia sekaligus doktor jebolan University of Chicago, Terence A Shimp (Profesor bidang pemasaran dari Darla Moore School of Business).
Saya baru baca buku-buku terjemahan para ahli pemasaran dan buku tentang periklanan itu, setelah lima bulan usaha saya menjalankan usaha. Waktu itu saya cuma berpikir bahwa nama itu penting, tapi saya tidak tahu teori pemberian nama atau dalam ilmu pemasaran disebut merek. Satu-satunya referensi saya ketika itu adalah ingatan dan imajinasi sebuah rumah makan di kampung halaman. Rumah makan itu berada di pinggir sawah dengan gaya lesehan. Nama rumah makan itu adalah Kampung Alang-alang.
Begitu pentingkah sebuah nama atau merek, sehingga kita perlu memikirkan masak-masak nama usaha yang akan dibuat. Sebagian berpendapat bahwa membuka usaha itu yang penting barangnya bagus, urusan nama tidak terlalu penting. Tentu kita tidak bisa menyalahkan pendapat semacam itu, karena itu hak individu yang dilatarbelakangi pengalaman, pendidikan, pergaulan dan gaya hidup.
Saya ingin menyebutkan beberapa merek produk yang Anda pasti kenal karena merek ini cukup kuat dalam ingatan kita. Baik, saya mulai dari merek Aqua, sebuah air mineral kemasan yang diproduksi PT Golden Missisipi asal negara Perancis. Anda tentuk sepakat merek ini memiliki karakter kuat. Merek selanjutnya yaitu Mer-C, sebuah merek mobil mewah asal Eropa.
Orang pasti akan tertuju pada sebuah mobil mewah asal Eropa ini ketika kita menyebutkan nama Mer-C. Satu lagi nama produk yang cukup kuat yaitu Gudang Garam. Ingatan kita pun seolah distel bahwa yang namanya Gudang Garam pasti merek rokok. Betapa pentingnya sebuah merek sehingga para ahli pemasaran memasukan bab soal merek dalam karangan buku mereka.
Saya sendiri bersyukur karena nama Gardoe Welitan yang kita singkat dengan dua kata yaitu GW, pelan-pelan mulai dikenal. Yah, meski tidak sekuat merek-merek di atas tapi kepuasan saya rasakan, karena nama yang saya buat tidak melenceng amat dari teori pemasaran. Apalagi setelah saya buatkan tagline GW emang beda !, rekan kantor dan relasi sudah tahu kalau emang beda itu punyanya GW.
Merek menurut American Marketing Association sebagaimana yang ditulis Terence dalam bukunya Periklanan Promosi, yaitu nama, istilah, tanda, simbol, desain atau kombinasi dari keseluruhan agar dapat dibedakan dengan kompetitornya. Mohon maaf definisi ini mesti saya sampaikan sebagai penambahan teoritis tentang merek karena bagaimanapun teoiri itu penting.
Awalnya saya apriori dengan kata teori karena sudah terlampau banyak contoh kegagalan orang yang cuma rajin berteori. Namun, setelah saya tahu bahwa lahirnya teori itu karena ada fenomena yang terjadi, maka saya semangat untuk mempelajari teori. Jadi, kesimpulannya dari beberapa penjelasan dan contoh merek maka nama (merek) itu penting. Alasannya, pertama untuk membedakan produk yang kita jual dengan yang lain. Kedua, merek akan berguna untuk program pencitraan.
Soo, mulai sekarang jangan menyepelekan soal nama atau merek karena akan memengaruhi loyalitas konsumen. Mungkin karena alasan inilah, beberapa perusahaan memberikan kewenangan kepada konsultan untuk membantu pembuatan merek dengan biaya ratusan hingga miliaran rupiah. Menurut Philip Kotler, inti merek yang berhasil adalah produk atau jasa yang hebat, didukung oleh perencanaan yang seksama. Merek yang kuat menghasilkan loyalitas konsumen yang tinggi.
--------------------------------
Penulis: Karnoto
CEO Maharti Group
ARTIKEL
Kekuatan kader adalah aset paling berharga bagi sebuah partai, apapun partainya, apapun ideologinya. Oleh karena kader adalah aset maka selayaknya partai memberikan perhatian penuh terhadap perkembangan kader. Selain mengukuhkan eksistensi sebuah partai, kader partai juga menjalankan fungsinya sebagai salles politik. Merekalah yang melakukan “perang” darat dengan kompetitor dan merekalah yang paling merasakan dampak dari pertempuran tersebut sehingga wajar jika para kader lebih emosional jika dibandingkan dengan elit yang jarang melakukan serangan darat.
Tidak heran pula, pertempuran darat yang dilakukan para kader partai sering berujung dengan perang fisik sesungguhnya. Disinilah mesin partai seharusnya mematangkan dan memberikan amunisi kepada kader sehingga tidak hanya bermodalkan fisik semata, tetapi ide, gagasan dan kreativitas termasuk perihal kedisiplinan.
Lebih kongkritnya, partai harus mempersiapkan secara matang tools-tools menjadi salles politik yang bisa dipakai oleh mereka sehingga di lapangan para salles politik tersebut mampu mengatasi dinamika dengan baik. Menurut Lisa Kunjtoro, seorang pengusaha properti dalam bukunya Super Champion, ada empat hal yang harus dipersiapkan seorang sales yaitu, pertama seorang salles harus mengetahui secara pasti siapa yang akan ditemui, paling tidak tahu sedikit latar belakangnya.
Kedua, menyiapkan materi atau konten yang akan disampaikan, ketiga menguasai seluruh produk dalam hal ini adalah diri seorang politisi dan partai politik yang akan dijual dan terakhir memastikan penampilan diri sebaik mungkin sesuai dengan waktu, tempat, dan demografi audiens.
Para salles partai harus tahu betul seluk beluk partai, bukan hanya perihal lahir dan ketua umumnya melainkan isi dan platform partai itu sendiri sehingga bisa menjelaskan secara utuh tentang partai sebagai produk yang dijual kepada audiens dalam hal ini calon pemilih. Jika tidak maka hampir dipastikan dirrect selling yang kita lakukan akan gagal total.
Demografis di daerah perkotaan tentu berbeda dengan perdesaan, baik dari pendapatan, pendidikan maupun life stylenya. Hal-hal seperti ini harus menjadi perhatian partai. Paling tidak partai memberikan petunjuk teknis (juknis) kepada salles politik sehingga mereka lebih siap dengan berbagai kemungkinan yang ada.
Disinilah pada level top manajemen memikirkan konsep yang baik dan membumi agar bisa diterapkan oleh para salles politik ketika melakukan dirrect selling. Menurut penulis dari sini saja publik bisa menilai mana partai yang betul-betul dikelola secara modern dan mana partai yang manajemennya masih konvensional alias tradisional.
Menjadi sales politik gampang-gampang susah mengingat ada perubahan perilaku pemilih dari pemilu ke pemilu. Jika pada pemilu 2004-2009, pemilih lebih selera memilih presiden yang ganteng, gagah dan dari kalangan militer maka ada perubahan kecenderungan pada pemilu 2014.
Aspek ganteng tidak bisa lagi dijual seiring dengan dinamika politik yang terjadi saat ini.
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai variabel, diantaranya lahirnya generasi dunia maya, dimana jika dilihat dari karakterisitknya mereka sudah mulai berpikir rasional bukan emosional. Fenomena kepala daerah yang low profile adalah salah satu indikator yang bisa kita lihat secara kasat mata untuk menunjukan bahwa pemilih saat ini sudah mulai menggunakan rasionalitasnya.
Informasi perubahan perilaku pemilih semacam ini juga harus sampai kepada para salles politik lalu partai menyiapkan konten dan tool yang sudah disesuaikan dengan demofrafi dan perilaku pemilih. Jika sebuah partai memiliki para salles yang loyal, cerdas dan memiliki kemauan keras lalu ditunjang dengan konsep marketing yang handal maka saya meyakini partai tersebut tidak akan mengalami terjun bebas ketika terpaksa harus pada posisi decline dalam product life cycle.
Penulis,
Karnoto, Konsultan Maharti Brand

Unknown
11.28.00
Kemauan keras adalah modal awal yang utama, sedangkan hal lainnya seperti skill dan pengetahuan hanyalah pendukung.
~ LISA KUNTJORO ~
Tidak heran pula, pertempuran darat yang dilakukan para kader partai sering berujung dengan perang fisik sesungguhnya. Disinilah mesin partai seharusnya mematangkan dan memberikan amunisi kepada kader sehingga tidak hanya bermodalkan fisik semata, tetapi ide, gagasan dan kreativitas termasuk perihal kedisiplinan.
Lebih kongkritnya, partai harus mempersiapkan secara matang tools-tools menjadi salles politik yang bisa dipakai oleh mereka sehingga di lapangan para salles politik tersebut mampu mengatasi dinamika dengan baik. Menurut Lisa Kunjtoro, seorang pengusaha properti dalam bukunya Super Champion, ada empat hal yang harus dipersiapkan seorang sales yaitu, pertama seorang salles harus mengetahui secara pasti siapa yang akan ditemui, paling tidak tahu sedikit latar belakangnya.
Kedua, menyiapkan materi atau konten yang akan disampaikan, ketiga menguasai seluruh produk dalam hal ini adalah diri seorang politisi dan partai politik yang akan dijual dan terakhir memastikan penampilan diri sebaik mungkin sesuai dengan waktu, tempat, dan demografi audiens.
Para salles partai harus tahu betul seluk beluk partai, bukan hanya perihal lahir dan ketua umumnya melainkan isi dan platform partai itu sendiri sehingga bisa menjelaskan secara utuh tentang partai sebagai produk yang dijual kepada audiens dalam hal ini calon pemilih. Jika tidak maka hampir dipastikan dirrect selling yang kita lakukan akan gagal total.
Demografis di daerah perkotaan tentu berbeda dengan perdesaan, baik dari pendapatan, pendidikan maupun life stylenya. Hal-hal seperti ini harus menjadi perhatian partai. Paling tidak partai memberikan petunjuk teknis (juknis) kepada salles politik sehingga mereka lebih siap dengan berbagai kemungkinan yang ada.
Disinilah pada level top manajemen memikirkan konsep yang baik dan membumi agar bisa diterapkan oleh para salles politik ketika melakukan dirrect selling. Menurut penulis dari sini saja publik bisa menilai mana partai yang betul-betul dikelola secara modern dan mana partai yang manajemennya masih konvensional alias tradisional.
Menjadi sales politik gampang-gampang susah mengingat ada perubahan perilaku pemilih dari pemilu ke pemilu. Jika pada pemilu 2004-2009, pemilih lebih selera memilih presiden yang ganteng, gagah dan dari kalangan militer maka ada perubahan kecenderungan pada pemilu 2014.
Aspek ganteng tidak bisa lagi dijual seiring dengan dinamika politik yang terjadi saat ini.
Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai variabel, diantaranya lahirnya generasi dunia maya, dimana jika dilihat dari karakterisitknya mereka sudah mulai berpikir rasional bukan emosional. Fenomena kepala daerah yang low profile adalah salah satu indikator yang bisa kita lihat secara kasat mata untuk menunjukan bahwa pemilih saat ini sudah mulai menggunakan rasionalitasnya.
Informasi perubahan perilaku pemilih semacam ini juga harus sampai kepada para salles politik lalu partai menyiapkan konten dan tool yang sudah disesuaikan dengan demofrafi dan perilaku pemilih. Jika sebuah partai memiliki para salles yang loyal, cerdas dan memiliki kemauan keras lalu ditunjang dengan konsep marketing yang handal maka saya meyakini partai tersebut tidak akan mengalami terjun bebas ketika terpaksa harus pada posisi decline dalam product life cycle.
Penulis,
Karnoto, Konsultan Maharti Brand

Langganan:
Postingan (Atom)













